PRINSIP-PRINSIP
DASAR PENCEGAHAN, PERAWATAN, DAN PENANGANAN CEDERA OLAHRAGA
Tujuan Pembelajaran
Umum:
dalam pembelajaran ini
mahasiswa/mahasiswi mampu mengerti dan memahami tentang
prinsip-prinsip dasar penanggulangan dan perawatan cedera
olahraga.
Tujuan Pembelajaran
Khusus:
Setelah mencermati
materi ini mahasiswa/mahasiswi mengerti dan memahami tentang:
1. Prinsip-prinsip
dasar pencegahan cedera olahraga.
2. Prinsip-prinsip
dasar perawatan cedera olahraga.
a. Segera setelah
terjadi cedera (0 sampai dengan 36 jam)
b. 36 jam setelah
cedera
c. Jika bagian yang
cedera dapat digunakan dan hampir normal
d. Jika bagian yang
cedera sudah sembuh dan latihan dapat dimulai
3. Prinsip penanganan
cedera olahraga.
1 Prinsip‐prinsip
Dasar Pencegahan Cedera Olahraga
Prinsip-prinsip dasar
pencegahan itu bisa diupayakan dengan mempertimbangkan
beberapa faktor berikut:
a. Pemeriksaan
kesehatan.
b. Pengaturan makan.
c. Pengaturan
istirahat.
d. Latihan-latihan dan
peningkatan keterampilan.
e. Pengawasan lapangan
dan perlengkapan pertandingan.
f. Penggunaan
perlengkapan pelindung.
g. Pengawasan
penggunaan obat-obatan (doping).
h. Peraturan-peraturan
pencegahan cedera.
i. Pemanasan sebelum
melakukan aktivitas inti.
1. Pemeriksaan
Kesehatan
Sebelum melakukan
kegiatan olahraga, seseorang perlu mengetahui status kesehatan
dirinya dengan jalan mengadakan pemeriksaan kesehatannya. Hasil
pemeriksaan tersebut dipertimbangkan untuk menentukan apakah
seseorang bisa ikut dalam aktivitas olahraga atau tidak. Pemeriksaan
kesehatan sangat mutlak diperlukan bagi mereka yang berusia lebih dari
40 tahun. Banyak terjadi kecelakaan yang berakibat fatal pada
pertandingan atau perlombaan olahraga yang diikuti oleh
orang-orang yang mencapai usia lebih dari 40 tahun.
2. Pengaturan Makan
Sumber kalori yang kita
gunakan berasal dari karbohidrat. Jumlah kalori yang dibutuhkan
tergantung dari berat ringannya aktivitas yang dilakukan, keadaan gizi
untuk orang biasa yang tidak melakukan aktivitas berat cukup
dengan 2.500 kalori sedangkan bagi atlet yang berlatih keras
memerlukan kira-kira sebesar 4.000 kalori. Komposisi makanan yang baik
adalah makanan dengan perbandingan protein 10-20%, karbohidrat
50-55%, dan lemak 30-35%.
3. Pengaturan Istirahat
Lelah adalah reaksi
fisiologis yang diberikan tubuh agar kitaberistirahat. Orang
yang mengalami kelelahan biasanya tidak dapat berpikir dengan benar,
otot-otot menjadi lemah, daya tahan tubuhsecara umum menurun,
koordinasi gerak kurang baik sehingga kemungkinan seseorang
mengalami cedera terbuka lebar. Disarankan agar seseorang
beristirahat (tidur) minimal 7 jam sehari.
4. Latihan-Latihan
Peningkatan Keterampilan
Fungsi utama dari
latihan agar tubuh mampu mengerahkan tenaga untuk mencapai hasil
kerja yang maksimal. Dengan latihan, organ tubuh serta pusat
susunan syaraf yaitu otak, mengadakan penyesuaian terhadap beban kerja
yang lebih berat sehingga mengalami perkembangan sesuai
intensitas latihannya. Peningkatan keterampilan merupakan faktor yang
sangat penting untuk mengurangi kemungkinan terjadinya
cedera.
5. Pengawasan Lapangan
dan Perlengkapan Pertandingan
Peristiwa cedera
seringkali terjadi karena keadaan lapangan tidak memenuhi persyaratan.
Bagian lapangan yang berlubang dan tidak rata menyebabkan
kemungkinan terjadinya cedera. Agar bisa menjamin terhadap
kemungkinan terjadinya cedera haruslah memenuhi syarat-syarat
tertentu. Jika lapangan bermain ada di dalam ruangan (in door) maka
perlu diperhatikan penerangan dan jumlah atlet yang melakukan
aktivitas olahraga di dalamnya, jika lapangan bermain ada di luar
ruangan (out door) maka perlu diperlukan standarisasi lapangan
(baik luas lapangan, adanya lubang, tidak ratanya lapangan, dan
lain-lain). Peralatan yang sudah using dan mengandung resiko yang
membahayakan hendaknya diganti dengan yang baru agar memenuhi
syarat keselamatan.
7. Penggunaan
Perlengkapan Pelindung
Upaya pencegahan cedera
olahraga bisa dilakukan dengan cara memanfaatkan
perlengkapan pelindung, misalnya dalam cabang olahraga anggar,
softball dan lain-lain yang menggunakan alat pelindung berupa
masker, gloves, dan body protector.
8. Pengawasan
Penggunaan Obat-Obatan (Doping)
Doping adalah pemakaian
suatu zat asing (obat) dengan jumlah yang tak wajar, dengan jalan
atau cara apapun dengan tujuan khusus untuk meningkatkan kemampuan
(prestasi) secara tidak jujur. Adanya larangan penggunaan
doping bukan semata-mata karena kurangnya rasa sportifitas, namun
sebenarnya doping dapat membahayakan keselamatan pelakunya
9. Peraturan-Peraturan
Pencegahan Cedera
Hampir semua peraturan
pertandingan dan perlombaan dicantumkan beberapa
ketentuan-ketentuan yang mengatur segala sesuatu agar bahaya dapat
dihindarkan termasuk sanksi-sanksi yang timbul akibat pelanggaran yang
dilakukan. Bisa dibayangkan apabila seorang petinju yang bertubuh kecil
berhadapan dengan lawannya yang bertubuh lebih besar.
Pertandingan tidak akan seimbang dan petinju yang bertubuh kecil ini akan
mengalami cedera yang lebih besar. Oleh karena itu, cabang
olahraga bela diri mengenal pembagian kelas berdasarkan berat
badan.
10. Pemanasan Sebelum
Melakukan Aktivitas Inti
Untuk mencegah
timbulnya cedera, diperlukan pemanasan yang sangat optimal baik
pemanasan statis dan pemanasan dinamis. Selain mencegah timbulnya
cedera, pemanasan juga berfungsi meningkatkan kelentukan
(elastisitas) otot dan sendi, menambah mutu gerakan, mengurangi ketegangan
otot, membantu tubuh merasa rileks, meningkatkan kesiapan
tubuh dalam menerima pelatihan dan melancarkan sirkulasi
darah
2. Prinsip‐prinsip
Dasar Perawatan Cedera Olahraga
1.
Segera Setelah Terjadi Cedera (0 sampai dengan 36 jam)
Dalam penanganan
pertama dilakukan dengan metode RICE, yaitu :
R = Rest,
diistirahatkan
I = Ice, didinginkan
(kompres es)
C = Compression, balut
tekan
E = Elevation,
ditinggikan dari letak jantung
a. Rest
Segera istirahatkan
bagian yang cedera. Tujuannya adalah untuk mencegah bertambah
parahnya cedera dan mengurangi aliran darah (perdarahan) ke area
cedera. Waktu istirahat tergantung pada berat ringannya cedera. Bila
terjadi cedera di tungkai gunakan kruk untuk menghindari tumpuan
pada tungkai yang cedera, dan untuk cedera di lengan gunakan splint.
b. Ice
Tujuannya adalah
melokalisir cedera, mematirasakan ujung syaraf sehingga dapat
mengurangi nyeri, mencegah pembengkakan, mengurangi perdarahan
(vasokonstriksi). Cara kompres es: es ditempatkan di dalam
kantong es atau es dibalut pada handuk kecil, kemudian es tersebut
diletakkan pada bagian yang cedera selama 2-3 menit sampai rasa sakit
hilang (pembengkakan dirasa berkurang/membaik)
intervalnya 20-30 menit. Jangan terlalu lama mengompres karena dapat
mengakibatkan rusaknya jaringan tubuh dan vasodilatasi
berlebihan. Jika tidak ada es dapat diberikan evaporating lotion,
zat-zat kimia yang menguap dan mengambil panas misalnya : chlorethyl
spray. Pemberian obat-obatan juga dapat diberikan untuk mengurangi rasa
sakit/nyeri misalnya obat-obatan yang tergolong anti
inflamasi dan analgesik. Obat-obatan yang tergolong anti inflamasi :
papase, anti reumatik, kortikosteroid, dan lain-lain. Obat-obat yang
tergolong analgesik : antalgin, neuralgin, panadol, aspirin, asetosal, dan
lain-lain.
c. Compression
Tujuannya adalah untuk
mengurangi pembengkakan ssebagai akibat perdarahan dan untuk
mengurangi pergerakan. Balut tekan adalah suatu ikatan yang
terbuat dari bahan elastis seperti : elastic bandage, tensio krep, atau
benda-benda lain yang sejenis. Ikatan harus nyaman dan jangan terlalu
kencang karena dapat menyebabkan kematian jaringan-jaringan di
sebelah distal ikatan. Tanda ikatan terlalu kencang: denyut nadi bagian
distal terhenti atau tidak terasa, cedera semakin membengkak, penderita
merasa kesakitan, warna kulit pucat kebirubiruan, dan mati rasa pada daerah
yang cedera.
d. Elevation
Tujuannya adalah
mengurangi perdarahan dan mengurangi pembengkakan. Dengan
mengangkat bagian cedera lebih tinggi dari letak jantung
menyebabkan aliran darah arteri menjadi lambat (melawan gravitasi
bumi) dan aliran darah vena menjadi lancer sehingga perdarahan dan
pembengkakan berkurang. Hasil-hasil jaringan yang rusak
akan lancer dibuang oleh aliran darah balik dan pembuluh limfe.
Dalam menangani cedera
baru (0-36 jam) jangan melakukan HARM,
yaitu :
H = Heat, kompres panas
A = Alcohol, alcohol
R = Running, berlari
M = Massage, massase
e. Heat
Kompres panas tidak
boleh dilakukan karena akan menyebabkan peningkatan aliran
darah ke bagian yang cedera sehingga menyebabkan
pembengkakan semakin parah.
f. Alcohol
Merendam daerah yang
cedera dengan alkohol dan meminum minuman yang mengandung
alkohol akan memperparah bagian yang cedera dan menyebabkan
pembengkakan semakin parah.
g. Running
Jangan mencoba untuk
berlari, hal ini dapat memperparah bagian yang cedera.
h. Massage
Massase sangat tidak
dianjurkan pada cedera baru, karena jika dilakukan massase akan
merusak jaringan yang sudah cedera dan memperparah cedera
sehingga penyembuhan bagian yang cedera tidak akan maksimal.
3. 36 Jam Setelah
Cedera
Pemberian kompres panas
dapat dilakukan tujuannya mencerai beraikan traumatic effusion atau
cairan plasma darah yang keluar dan masuk di sekitar tempat yang
cedera sehingga mudah diangkut oleh pembuluh darah balik dan limfe,
memperlancar proses penyembuhan dan mengurangi rasa sakit
karena kejangnya otot. Pemberian kompres panas intervalnya 20-30
menit. Fisioterapi berupa massage, penyinaran (infra red) menggunakan alat bantu
seperti decker atau elastic bandage dapat diterapkan pada tahap ini.
4. Jika Bagian yang
Cedera Dapat Digunakan dan Hampir Normal
Massage masih dapat
dilakukan untuk membantu proses penyembuhan. Untuk memelihara
kemungkinan gerak normal dari sendi yang mengalami cedera, dapat dilakukan
latihan-latihan penyembuhan secara bertahap sedikit demi sedikit
sampai batas nyeri. Kalau sendi tidak dilatih, gerakan dapat menjadi terbatas
karena terbentuknya penebalan dan pelekatan pada jaringan yang mengalami
proses penyembuhan. Latihan-latihan ini berupa latihan mobility, yakni
menggerakkan sendi sejauh mungkin sampai batas rasa sakit.
5. Jika Bagian yang
Cedera Sudah Sembuh dan Latihan Dapat Dimulai
Bagian yang cedera
dipersiapkan agar kuat terhadap tekanan-tekanan dan tarikan-tarikan yang
terdapat pada cabang olahraga si penderita tersebut. Latihan berat yang
terprogram sudah dapat diterapkan.
3.
Prinsip Penanganan Cedera Olahraga
C = Cepat, tepat,
berani, dan manusiawi merupakan kunci penanganan pertama
E = Es merupakan benda
penting yang harus tersedia selama dan sesudah latihan
D = Diagnosa jenis
cedera dengan penulusuran kejadiannya, tanda, dan gejala
E = Elevasi segera
lokasi cedera sehingga lebih tinggi dari jantung
R = Reposisi semua
jenis keseleo dengan menarik sendi segera (neural shock)
A = Atasi perdarahan
dengan menekan dan menutup luka dengan kain bersih
O = Obati nyeri dan
bengkak segera mungkin
L = Latihan daya tahan
tetap dilakukan
A = Analisis penyebab
cedera dan hindari
H = Hilangkan trauma
psikologis dengan latihan
R = Relaksasi dari
latihan apabila terjadi cedera
A = Atasi bengkak dan
nyeri dengan massage bila waktu cedera lebih dari 36 jam
G = Gerakkan bagian
tubuh yang mengalami cedera sedikit demi sedikit sampai batas nyeri jika hampir
sembuh
A = Agar meminimalkan
cedera, dapat dilakukan dengan pemanasan yang baik dan benar (pemanasan statis
kemudian dilanjutkan dengan pemanasan dinamis secara sistematis dari kepala ke
kaki atau sebaliknya)