Kamis, 16 Februari 2023

Faktor kebugaran jasmani dan psikologi


Faktor kebugaran jasmani dan psikologi

Sehat/bugar merupakan suatu konsep yang tidak dapat dengan mudah, diartikan meskipun dapat dirasakan dan diamati keadaannya. Hal ini terjadi karena setiap manusia pandangan yang berbeda tentang konsep sehat, 




1. Pengertian Kebugaran Jasmani

Kebugaran jasmani bagi masyarakat pada umumnya banyak yang

belum mengenal, mereka lebih mengenal kesegaran jasmani. Padahal apabila

dilihat dari asal katanya ialah kebugaran jasmani berasal dari kata physical

fitness yang artinya kebugaran jasmani atau kesegaran jasmani (Bambang

Priyonoadi dkk, 2001: 4), sehingga dapat dikatakan bahwa istilah kebugaran

jasmani sama dengan kesegaran jasmani.

Menurut Suhartono yang dikutip oleh Suryanto, dkk. (1998: 5),

menyatakan bahwa kebugaran dapat digolongkan menjadi empat macam,

yaitu:

a. Kebugaran jasmani (physical fitness)

Kebugaran jasmani merupakan satu aspek fisik dari kebugaran

menyeluruh yang memberikan kesanggupan kepada seseorang untuk

melakukan pekerjaan produktif dalam kehidupan sehari-hari, tanpa adanya

kelelahan yang berlebihan dan masih mempunyai cadangan tenaga untuk

menikmati waktu luangnya maupun melakukan pekerjaan yang mendadak

dengan baik.

b. Kebugaran mental (mental fitness)

Kebugaran mental yaitu suatu keadaan dimana seseorang bisa

memiliki pengertian, pandangan, pengetahuan, kecerdasan, moral dan

semangat kerja yang baik serta mampu mengatasi permasalahan yang ada

pada diri sendiri maupun masyarakat.

c. Kebugaran emosi (emotional fitness)

Kebugaran emosi yaitu kebugaran yang ditandai dengan adanya

rasa ketenangan dan bebas dari tekanan keluarga maupun lingkungan

masyarakat serta mampu menghadapi dan mengatasi kenyataan yang ada.

d. Kebugaran sosial (social fitness)

Kebugaran sosial merupakan kemampuan seseorang untuk

menyesuaikan, menempatkan dan mengabdikan diri kepada lingkungan,

keluarga dan masyarakat.

Adapun menurut Djoko Pekik Irianto (2004: 2-3) kebugaran dapat

digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu:

a. Kebugaran statis adalah keadaan seeorang yang bebas dari penyakit

dan cacat atau disebut sehat.

b. Kebugaran dinamis adalah kemampun seseorang untuk bekerja secara

efisien yang tidak memerlukan keterampilan khusus, misalnya

berjalan, berlari, melompat, mengangkat.

c. Kebugaran motoris merupakan kemampuan seseorang untuk bekerja

secara efisien yang menuntut keterampilan khusus.

Kebugaran fisik (physical fitness), yakni kemampuan seseorang

melakukan kerja sehari-hari secara efisien tanpa timbul kelelahan yang

berlebihan sehingga masih dapat menikmati waktu luangnya (Djoko Pekik

Irianto, 2004: 2). Kebugaran jasmani menurut Arma Abdoellah (1994: 146)

adalah kemampuan untuk dapat melaksanakan tugas sehari-hari dengan

semangat tanpa rasa lelah yang berlebihan dan dengan penuh energi

melakukan dan menikmati kegiatan pada waktu luang dan dapat menghadapi

keadaan darurat bila datang. Menurut Sadoso Sumosardjuno (1992: 19),

kebugaran jasmani adalah kemampuan seseorang untuk menunaikan tugas

sehari-hari dengan gampang, tanpa merasa lelah yang berlebihan, dan masih

mempunyai sisa atau cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggangnya,

dan untuk keperluan-keperluan yang mendadak.

2. Pengertian Kebugaran Mental

Sehat merupakan suatu konsep yang tidak dapat dengan mudah

diartikan meskipun dapat dirasakan dan diamati keadaannya. Hal ini terjadi

karena setiap manusia pandangan yang berbeda tentang konsep sehat,

sehingga dapat dikatakan bahwa factor subjektifitas dan kultur memberikan

pengaruh tentang pemahaman dan pengertian orang terhadap konsep sehat.

Sebagai acuan untuk memahami konsep “sehat”, World Health Organization

(WHO) merumuskan dalam cakupan yang luas tentang konsep sehat yaitu

keadaan yang sempurna baik fisik, mental maupun social, dan tidak hanya

terbebas dari penyakit atau kelemahan (cacat).

Suatu keadaan sehat memiliki kebalikan yaitu keadaan sakit. Menurut

Calhoun yang dikutip oleh Moeljono Notosudirdjo (2001: 4) membagi secara

khusus pengertian sakit memiliki tiga pandangan dimensional yaitu:

a. Disease berdimensi biologis yaitu penyakit berarti suatu penyimpangan

yang simptomnya dapat diketahui melalui diagnosis. Penyakit ini tetap ada

tanpa dipengaruhi oleh keyakinan orang atau masyarakat lain terhadapnya.

b. Illness berdimensi psikologis adalah konsep psikologi yang menunjuk

pada perasaan, persepsi, atau pengalaman subjektif seseorang tentang

ketidaksehatannya atau keadaan tubuh yang dirasa tidak enak. Seseorang

terjangkit suatu penyakit belum tentu merasakan sakit tetapi dapat

dirasakan orang lain.

c. Sickness berdimensi sosiologis merupakan konsep sosiologis yang

bermakna sebagai penerimaan social terhadap seseorang sebagai orang

yang sedang mengalami kesakitan. Sakit dalam konsep ini berkenaan

dengan peran khusus yang dilakukan sehubungan dengan perasaan

kesakitannya dan sekaligus memiliki tanggungjawab baru yaitu mencari

kesembuhan.

Pengertian sehat dan sakit tersebut telah memberikan pemahaman

dan pemaknaan tentang sehat dan sakit itu memiliki cakupan yang sangat

luas. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa sehat itu merupakan suatu

kondisi yang seimbang antara biologis, psikologis dan sosologis sehingga

dapat memperoleh kesempurnaan fisik, mental dan social. Sedangkan

menurut Moeljono Notosudirdjo (2001: 6) secara singkat kesehatan itu dapat

diuraikan sebagai berikut:

a. Merupakan suatu pengertian (construct) yang sangat longgar yang

dipahami berbeda oleh masyarakat;

b. Bersifat kualitati karena dapat dimengerti menurut perasaan dan persepsi,

dan

c. Keadaan yang bersifat kontinum karena posisinya berada pada dua titik

eksterm yang berlawanan yaitu titik sehat pada satu sisi dan titik sakit pada

sisi lain.

Menurut Karitini Kartono (1989: 3), mental berasal dari kata Latin

mens, mentis yang artinya jiwa, nyawa, sukma, roh, semangat. Mental juga

sering disebut psiko atau psyche berasal dari kata Yunani psuche yang

artinya nafas, asas kehidupan, hidup, jiwa, roh, sukma, semangat. Sedang

menurut Moeljono Notosudirdjo (2001: 7) psikis atau mental merupakan

bagian dari manusia yang bersifat non material, yang hanya diketahui dari

gejala-gejalanya, atau apa yang disebut dengan gejala psikis seperti dorongan

(drive), motivasi (motivation), kemauan (willness), kognitif (cognition),

kepribadian (personality), dan perasaan (feeling).

Kondisi manusia dalam kehidupan ini tidak selamanya sehat. Pada

suatu saat manusia pasti akan mengalami gangguan fisiologis pada fungsi

faal tubuh, hal ini akan dapat dengan mudah dikenal karena berkaitan dengan

fisik manusia. Akan tetapi selain gangguan fisiologis juga sering terjadi

gangguan mental pada manusia. Untuk memahami dan mengetahui gangguan

mental ini lebih sulit dibandingkan mengenal gangguan fisiologis, kerana

persepsi setiap orang berbeda terhadap ganguan mental sangat berbeda. Oleh

karena itu perlu dikembangkan ilmu yang mempelajari tentang kesehatan

mental dan bagaimana cara yang paling tepat untuk meningkatkan dan

mempertahankan kesehatan mental sehingga diperoleh ketenangan jiwa.

Ilmu kesehatan mental adalah ilmu yang mempelajari tentang

masalah kesehatan mental atau jiwa, bertujuan mencegah timbulnya ganguan

atau penyakit mental dan gangguan emosi, dan berusaha mengurangi atau

menyembuhkan penyakit mental, serta memajukan kesehatan jiwa rakyat

(Kartini Kartono, 1989: 3). Dapat disimpulkan pula bahwa kesehatan mental

merupakan suatu kondisi psikologis manusia yang sedang dalam keadaan

normal tanpa mengalami gangguan-gangguan psikis seperti depresi, stress,

gangguan kepribadian, dan lain sebagainya.

Menurut Moeljono Notosudirdjo (2001: 16), dalam mempelajari

kebugaran mental pada berbagai bidang ilmu pada prinsipnya memiliki

tujuan untuk:

a. Memahami makna kesehatan mental dan faktor-faktor penyebabnya.

b. Memahami pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam penanganan

kesehatan mental.

c. Memiliki kemampuan dasar dalam usaha peningkatan dan pencegahan

kesehatan mental masyarakat.

d. Memiliki sikap yang proaktif dan mampu memanfaatkan barbagai sumber

daya dalam upaya penanganan kesehatan mental dalam masyarakat.

e. Meningkatkan kesehatan mental masyarakat dan mengurangi timbulnya

gangguan mental masyarakat.

Dari beberapa tujuan kesehatan mental tersebut manusia hendaknya

sadar akan pentingnya kesehatan mental, sehingga sangat diperlukan

kesadaran dari individu manusia untuk melakukan kegiatan-kegiatan dalam

pemenuhan kebutuhan mental.

3. Aktivitas Outbond

Kebugaran mental bukan merupakan suatu disiplin ilmu yang berdiri

sendiri. Ada berbagai bidang ilmu yang memberi kontribusi bagi kesehatan

mental seperti ilmu kedokteran, psikologi, sosio-antropologi, ilmu

pendidikan, ilmu agama, dan tidak menutup kemungkinan bagi ilmu

olahraga. Pada ilmu olahraga secara bermakna juga memberi kontribusi bagi

pemahaman dan penanganan kesehatan mental manusia. Hal ini dapat dilihat

bahwa dengan olahraga dapat membantu mengurangi depresi, stress,

meningkatkan motivasi, dan menumbuhkan sikap sportif pada individu

manusia.

Ada beberapa model dan bentuk pengembangan ilmu olahraga untuk

meningkatkan kebugaran jasmani dan mental seperti kegiatan yang sedang

popular saat ini yaitu kegiatan di alam terbuka (outbond). Dengan kegiatan

ini diharapkan dapat memberi kontribusi yang positif terhadap peningkatan

kebugaran jasmani dan juga mental. Kegiatan ini merupakan aktivitas

olahraga yang di desain dalam bentuk permainan untuk memperoleh

kesenangan lahir dan batin.

Menurut Djamaludin Ancok (2006:4-6) ada tiga alasan mengapa

metode outbond ini banyak digemari oleh kalangan masyarakat luas yaitu

pertama, metode ini adalah sebuah simulasi kehidupan artinya segala macam

bentuk aktivitas di dalam pelatihan adalah merupakan bentuk sederhana dari

kehidupan yang sangat kompleks. Kedua, metode ini menggunakan

pendekatan metode belajar melalui pengalaman artinya metode out bond ini

memudahkan pemahaman tentang konsep belajar karena peserta terlibat

langsung secara kognitif (pikiran), afeksi (emosi) dan psikomotorik (gerakan

motorik). Ketiga, metode ini penuh kegembiraan karena dilakukan dengan

permainan, artinya metode ini sebagai sarana untuk menemukan kembali

pengalaman masa kecil yang penuh kegembiraan, dan memberikan sebuah

hiburan yang menarik bagi peserta yang memiliki pengalaman masa kecil

yang kurang bahagia.

Adapun manfaat dari aktivitas outbond adalah:

a. Melatih Daya Tahan Paru Jantung,

b. Melatih Mental dan Keberanian mengambil resiko untuk mencapai suatu

tujuan,

c. Membangun kepercayaan diri,

d. Melatih membuat keputusan dengan cepat, tepat, cermat dan bijaksana,

e. Memahami arti penting kerjasama kelompok dalam lingkungan kerja,

f. Memahami pola pikir sistimatis dalam menyelesaikan masalah kelompok,

g. Mampu memecahkan masalah secara kreatif,

h. Melatih kemampuan berkomunikasi secara efektif,

i. Meningkatkan rasa percaya diri,

j. Melatih kejujuran dan sportifitas.

PEMBAHASAN

Kemampuan seorang individu untuk melakukan pekerjaan seberat apapun

dalam kehidupan sehari-hari dengan tidak mengalami kelelahan yang berlebihan,

sehingga masih memiliki tenaga atau energi untuk mengisi waktu luangnya dan

masih mampu melakukan pekerjaan yang mendadak adalah dambaan setiap

manusia. Seseorang dapat dikatakan bugar jasmaninya apabila telah mampu

menyelesaikan semua beban kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan tidak

merasakan kelelahan. Salah satu cara untuk memperoleh kebugaran jasmani

adalah dengan berolahraga secara teratur, terukur dan terprogram.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERCAYA DIRI DALAM OLAHRAGA

 Hakim (2002) menyatakan kepercayaan diri dapat diartikan sebagai suatu keyakinan sesorang dari segala aspek kelebihan yang dimilikinya dan ...