JENIS-JENIS
CEDERA OLAHRAGA DAN
PENYEBAB
TERJADINYA CEDERA OLAHRAGA
Tujuan Pembelajaran
Umum:
Dalam
pembelajaran ini mahasiswa/mahasiswi mampu mengerti dan memahami tentang
jenis-jenis cedera olahraga serta penyebab terjadinya cedera olahraga.
Tujuan Pembelajaran
Khusus:
Setelah
mencermati materi ini mahasiswa/mahasiswi mengerti dan memahami tentang:
1. Pengertian cedera
olahraga.
2. Bagian-bagian tubuh
yang sering mengalami cedera olahraga.
3. Jenis-jenis cedera
olahraga.
4. Penyebab terjadinya
cedera olahraga.
5. Tanda-tanda reaksi
radang setempat akibat cedera olahraga.
2.1 CEDERA OLAHRAGA
Seiring
dengan manfaat yang dapat dirasakan dalam olahraga juga terdapat kenaikkan
terjadinya cedera yang dialami, terutama sekali cedera yang parah/berlarut.
Adanya aktivitas-aktivitas olahraga yang semakin meningkat dengan disertai
terjadinya cedera yang menyertainya telah menimbulkan permintaan yang meningkat
akan pengetahuan tentang
BAB 2
6
Pencegahan dan Peraatan Cedera Olahraga bagaimana agar tubuh kita dapat merespon
gejala-gejala yang terjadi. Masyarakat telah mengalami kemajuan pada suatu
keadaan dimana mereka tidak hanya ingin mengetahui manfaat yang dirasakan dari olahraga
yang telah dilakukannya tetapi mereka juga ingin mengetahui cedera itu dapat
terjadi dan langkah terbaik yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan atau
bagaimana caranya mencegah terjadinya cederacedera tersebut. Cedera olahraga
(sport injuries) adalah segala macam cedera yang timbul, baik pada waktu
latihan, berolahraga, pertandingan olahraga ataupun sesudahnya. Pengetahuan
tentang cedera olahraga berguna untuk mempelajari cara terjadinya cedera
olahraga, mengobati/menolong/menanggulangi (kuratif), serta tindakan pencegahan
(kuratif).
2.2 Bagian‐bagian Tubuh
yang Sering Mengalami Cedera
Olahraga
Distribusi persentase berdasarkan bagian-bagian tubuh yang mengalami
cedera:
a. Kepala 1%
b. Leher 1,5%
c. Lengan 14%
d. Badan 1%
e. Punggung 16%
f. Tangan dan
Pergelangan Tangan 4%
g. Pinggang/Pinggul
5,5%
h. Paha 9%
i. Lutut 22,5%
j. Kaki/Tungkai Bawah
10%
k. Tumit 14%
l. Telapak Kaki 1,5%
Sumber: Cedera Olahraga
(Alit Arsani, 2006)
Jenis-jenis
Cedera Olahraga dan Penyebab Terjadinya Olahraga 7 Lutut memiliki persentase
cedera tertinggi karena berfungsi ganda, yaitu selain sebagai penggerak, lutut
juga berfungsi sebagai penahan berat badan sehingga kemungkinan cederanya
semakin tinggi.
2.3 Jenis‐jenis Cedera
Olahraga
2.3.1 Berdasarkan waktu
terjadinya cedera:
a. Cedera akut, adalah
suatu cedera berat yang terjadi secara mendadak/tiba-tiba (beberapa jam yang
lalu) seperti: cedera goresan, robek pada ligament, atau patah tulang karena
terjatuh. Tanda dan gejalanya: sakit, nyeri tekan, kemerahan pada kulit, kulit
hangat, dan inflamasi.
b. Cedera kronis,
adalah suatu cedera yang terjadi/berkembang secara lambat seperti: cedera pada
otot hamstring yang mengalami cedera pada level rendah misalnya kram, namun
secara berulang-ulang mengalami cedera yang berulang-ulang dalam jangka waktu
yang lama dapat menyebabkan cedera pada level tinggi sehingga menyebabkan otot
hamstring mengalami perobekan/putus total.
Tanda dan gejalanya:
gejala sakit yang timbul dapat hilang dalam beberapa waktu tertentu namun dapat
timbul kembali, biasanya karena overuse atau cedera akut yang tidak sembuh
sempurna.
2.3.2 Berdasarkan berat
ringannya cedera:
a. Cedera ringan,
adalah cedera yang tidak diikuti kerusakan yang berarti
pada jaringan tubuh
misalnya: kekakuan dan kelelahan otot. Cara penanganan pada cedera ini tidak
diperlukan pengobatan yang khusus karena akan sembuh dengan sendirinya setelah
istirahat beberapa waktu.
b. Cedera berat, adalah
cedera yang serius dimana pada cedera tersebut
ditemukan adanya
kerusakan pada jaringan tubuh misalnya: robeknya otot, robeknya ligament,
maupun patah tulang (fraktur). 8 Pencegahan dan Peraatan Cedera Olahraga.
2.3.3 Berdasarkan
Bagian-bagian Tubuh/Jaringan yang Terkena
Cedera
a. Jaringan lunak,
terdiri dari: kulit, jaringan ikat, pembuluh darah, saraf, otot, tendon, dan
ligament.
b. Jaringan keras,
terdiri dari: tulang, tulang rawan, dan sendi
2.4 Penyebab Terjadinya
Cedera Olahraga
Penyebab terjadinya
cedera olahraga disebabkan oleh 3 faktor utama yaitu:
1. Sebab-sebab yang
berasal dari dalam (internal violence)
Merupakan cedera
olahraga yang terjadi karena adanya rangsang/pengaruh yang berasal dari dalam
individu itu sendiri, misalnya:
a. Koordinasi otot-otot
dan sendi yang kurang sempurna sehingga menimbulkan gerakan-gerakan yang salah.
b. Kelainan struktural
tubuh (ukuran tungkai/kaki yang tidak sama panjangnya).
c. Kurangnya pemanasan
(warming up), apabila pemanasan ini tidak dilaksanakan dengan baik/tidak
memadai akan menyebabkan latihan fisik yang terjadi secara fisiologi tidak
dapat diterima oleh tubuh karena otot belum siap menerima pembebanan. Jadi
pemanasan itu penting agar tubuh dapat beradaptasi terlebih dahulu sehingga mengurangi
resiko cedera akibat kurang elastisitas otot dan fleksibilitas sendi.
d. Kurangnya
konsentrasi.
e. Keadaan fisik dan
mental yang lemah, kondisi tubuh yang kurang baik sebaiknya jangan dipaksakan
untuk berolahraga karena jaringanjaringan tubuh kekurangan sistem imun dan
lemahnya system koordinasi.
f. Kelemahan pada otot,
tendon, ligament.
g. Umur, kekuatan otot
pada pubertas mencapai 70-80% dan mecapai puncaknya pada usia 25-30 tahun, selanjutnya
mengalami penurunan secara bertahap dengan pertambahan usia. Setelah usia 30
tahun, seseorang akan kehilangan 3-5% jaringan otot total setiap 10 tahun. Kekuatan
otot pada usia 65 tahun hanya tinggal 65-70%. Sehingga semakin bertambahnya
usia maka, semakin berpengaruh terhadap kondisi fisik seseorang dan lamanya
proses penyembuhan akibat cedera.
h.
Keterampilan/kemampuan, keterampilan seorang atlet/olahragawan yang masih
rendah akan lebih mudah dan lebih sering mengalami cedera dibandingkan dengan
seorang atlet/ olahragawan yang telah terampil. Maka semakin bagus kemampuan
motoriknya maka semakin kecil kemungkinan terkena cedera.
i. Pengalaman, seorang
atlet yang telah berpengalaman akan lebih kecil kemungkinan terkena cedera bila
dibandingkan dengan atlet yang masih belum berpengalaman. Hal ini dikarenakan
pengalaman seorang atlet senior atau atlet yang banyak pengalaman dalam
bertanding telah menyadari akan resiko dari terjadinya cedera sehingga resiko terjadinya
cedera akan lebih kecil dibandingkan dengan seorang atlet pemula.
j. Penyembuhan cedera
sebelumnya yang tidak sempurna (habitualis). Hal ini dapat terjadi karena
kapsul sendi/ligament kendur.
k. Cedera yang timbul
bisa berupa: robeknya otot, tendon, dan ligament.
2. Sebab-sebab yang
berasal dari luar (eksternal violence) Merupakan cedera olahraga yang terjadi
karena adanya pengaruh dari faktor luar individu yang memberikan pengaruh
terhadap individu
tersebut, misalnya :
a. Kontak bodi dalam
olahraga (body contact sport), misalnya: sepak bola,
tinju, karate, dan
sebagainya.
b. Alat-alat olahraga,
misalnya: bola, raket, stick hockey, dan lain-lain.
c. Kondisi lapangan,
misalnya: keadaan lapangan yang tidak memenuhi standar/persyaratan, keadaan
lapangan/lintasan balap motor/mobil yang berlubang-lubang.
d. Kondisi lingkungan,
cuaca yang terlalu dingin/panas selain dapat menganggu penampilan seorang atlet
juga dapat mencederai atlet itu sendiri.
e. Gizi, bila seorang
atlet memiliki keseimbangan gizi yang baik maka lebih kecil kemungkinan
mendapatkan cedera, dan bila cedera pun akan lebih cepat proses penyembuhannya
karena gizi yang dibutuhkan tubuh untuk penyembuhan terpenuhi dengan baik.
f. Penonton, penonton
yang fanatik biasanya melakukan apa saja saat timnya kalah bahkan dapat
mencederai pemain lawan timnya.
g. Wasit, wasit yang
kurang tegas dalam memimpin pertandingan dan kurang memahami peraturan terutama
pertandingan yang memerlukan kontak fisik akan dapat mengakibatkan atletnya
cedera.
h. Cedera yang timbul
bisa berupa: robeknya otot, tendon, dan ligament.
3. Pemakaian otot dan
tendon yang berlebihan atau terlalu lelah (over use)
Koordinasi otot yang
terus menerus akan mengakibatkan otot dan tendon yang digunakan untuk aktivitas
olahraga terlalu lelah bahkan bisa berakibat pada cedera. Tingkat keterlatihan
yang belum memadai sewaktumeningkatkan dosis latihan juga dapat mengakibatkan
over use. Cedera akibat over use bersifat kronis, bagian tubuh yang mengalami
cedera pada level rendah misalnya kram, secara berulang-ulang mengalami cedera
yang berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan cedera pada
level tinggi sehingga menyebabkan robek pada otot, otot putus total, bahkan
fraktur.
Cedera yang timbul bisa
berupa: kram, strain (cedera pada otot atau tendon), sprain (cedera pada
ligament), robek otot, robek tendon, robek ligament, otot putus total, dan
fraktur.
2.5 Tanda‐Tanda Reaksi
Radang Setempat Akibat Cedera Olahraga
Pada
bagian tubuh yang mengalami cedera olahraga terjadi reaksi radang setempat atau
inflamasi. Inflamasi adalah respon individu terhadap patogen (organisme atau
virus penyebab penyakit), dalam jaringan berupa rangkaian reaksi yang terjadi
pada tempat jaringan yang mengalami cedera, seperti terluka, terbakar dan lain
sebagainya. Inflamasi atau peradangan setempat ditandai dengan adanya
tanda-tanda sebagai berikut:
1. Kalor: hangat, pada
saat mengalami cedera olahraga bagian tubuh yang cedera akan terasa hangat
apabila disentuh.
2. Rubor: merah, pada
saat mengalami cedera olahraga disekitar bagian tubuh yang mengalami cedera
tersebut akan terlihat warna kemerahan.
3. Dolor: nyeri atau
sakit, tentu saja akan terasa rasa nyeri atau sakit pada bagian tubuh yang
mengalami cedera olahraga.
4. Tumor: bengkak,
setelah beberapa saat mengalami cedera olahraga biasanya akan akan terjadi
pembengkakan pada daerah yang cedera.
5. Fungsiolesi: daya
pergerakan menurun dan kemungkinan disfungsi organ atau jaringan, bagian tubuh
yang mengalami cedera akan mengakibatkan terjadinya penurunan pergerakan bahkan
tidak bisa dipergunakan lagi.
