Tampilkan postingan dengan label PRINSIP-PRINSIP DASAR PENCEGAHAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PRINSIP-PRINSIP DASAR PENCEGAHAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Februari 2023

PRINSIP-PRINSIP DASAR PENCEGAHAN, PERAWATAN, DAN PENANGANAN CEDERA OLAHRAGA



PRINSIP-PRINSIP DASAR PENCEGAHAN, PERAWATAN, DAN PENANGANAN CEDERA OLAHRAGA

Tujuan Pembelajaran Umum:

dalam pembelajaran ini mahasiswa/mahasiswi mampu mengerti dan memahami tentang prinsip-prinsip dasar penanggulangan dan perawatan cedera olahraga.

Tujuan Pembelajaran Khusus:

Setelah mencermati materi ini mahasiswa/mahasiswi mengerti dan memahami tentang:

1. Prinsip-prinsip dasar pencegahan cedera olahraga.

2. Prinsip-prinsip dasar perawatan cedera olahraga.

a. Segera setelah terjadi cedera (0 sampai dengan 36 jam)

b. 36 jam setelah cedera

c. Jika bagian yang cedera dapat digunakan dan hampir normal

d. Jika bagian yang cedera sudah sembuh dan latihan dapat dimulai

3. Prinsip penanganan cedera olahraga.


1 Prinsip‐prinsip Dasar Pencegahan Cedera Olahraga

Prinsip-prinsip dasar pencegahan itu bisa diupayakan dengan mempertimbangkan beberapa faktor berikut:

a. Pemeriksaan kesehatan.

b. Pengaturan makan.

c. Pengaturan istirahat.

d. Latihan-latihan dan peningkatan keterampilan.

e. Pengawasan lapangan dan perlengkapan pertandingan.

f. Penggunaan perlengkapan pelindung.

g. Pengawasan penggunaan obat-obatan (doping).

h. Peraturan-peraturan pencegahan cedera.

i. Pemanasan sebelum melakukan aktivitas inti.

1. Pemeriksaan Kesehatan

    Sebelum melakukan kegiatan olahraga, seseorang perlu mengetahui status kesehatan dirinya dengan jalan mengadakan pemeriksaan kesehatannya. Hasil pemeriksaan tersebut dipertimbangkan untuk menentukan apakah seseorang bisa ikut dalam aktivitas olahraga atau tidak. Pemeriksaan kesehatan sangat mutlak diperlukan bagi mereka yang berusia lebih dari 40 tahun. Banyak terjadi kecelakaan yang berakibat fatal pada pertandingan atau perlombaan olahraga yang diikuti oleh orang-orang yang mencapai usia lebih dari 40 tahun.

2. Pengaturan Makan

    Sumber kalori yang kita gunakan berasal dari karbohidrat. Jumlah kalori yang dibutuhkan tergantung dari berat ringannya aktivitas yang dilakukan, keadaan gizi untuk orang biasa yang tidak melakukan aktivitas berat cukup dengan 2.500 kalori sedangkan bagi atlet yang berlatih keras memerlukan kira-kira sebesar 4.000 kalori. Komposisi makanan yang baik adalah makanan dengan perbandingan protein 10-20%, karbohidrat 50-55%, dan lemak 30-35%.

3. Pengaturan Istirahat

    Lelah adalah reaksi fisiologis yang diberikan tubuh agar kitaberistirahat. Orang yang mengalami kelelahan biasanya tidak dapat berpikir dengan benar, otot-otot menjadi lemah, daya tahan tubuhsecara umum menurun, koordinasi gerak kurang baik sehingga kemungkinan seseorang mengalami cedera terbuka lebar. Disarankan agar seseorang beristirahat (tidur) minimal 7 jam sehari.

4. Latihan-Latihan Peningkatan Keterampilan    

    Fungsi utama dari latihan agar tubuh mampu mengerahkan tenaga untuk mencapai hasil kerja yang maksimal. Dengan latihan, organ tubuh serta pusat susunan syaraf yaitu otak, mengadakan penyesuaian terhadap beban kerja yang lebih berat sehingga mengalami perkembangan sesuai intensitas latihannya. Peningkatan keterampilan merupakan faktor yang sangat penting untuk mengurangi kemungkinan terjadinya cedera.

5. Pengawasan Lapangan dan Perlengkapan Pertandingan

    Peristiwa cedera seringkali terjadi karena keadaan lapangan tidak memenuhi persyaratan. Bagian lapangan yang berlubang dan tidak rata menyebabkan kemungkinan terjadinya cedera. Agar bisa menjamin terhadap kemungkinan terjadinya cedera haruslah memenuhi syarat-syarat tertentu. Jika lapangan bermain ada di dalam ruangan (in door) maka perlu diperhatikan penerangan dan jumlah atlet yang melakukan aktivitas olahraga di dalamnya, jika lapangan bermain ada di luar ruangan (out door) maka perlu diperlukan standarisasi lapangan (baik luas lapangan, adanya lubang, tidak ratanya lapangan, dan lain-lain). Peralatan yang sudah using dan mengandung resiko yang membahayakan hendaknya diganti dengan yang baru agar memenuhi syarat keselamatan.

7. Penggunaan Perlengkapan Pelindung

    Upaya pencegahan cedera olahraga bisa dilakukan dengan cara memanfaatkan perlengkapan pelindung, misalnya dalam cabang olahraga anggar, softball dan lain-lain yang menggunakan alat pelindung berupa masker, gloves, dan body protector.

8. Pengawasan Penggunaan Obat-Obatan (Doping)

    Doping adalah pemakaian suatu zat asing (obat) dengan jumlah yang tak wajar, dengan jalan atau cara apapun dengan tujuan khusus untuk meningkatkan kemampuan (prestasi) secara tidak jujur. Adanya larangan penggunaan doping bukan semata-mata karena kurangnya rasa sportifitas, namun sebenarnya doping dapat membahayakan keselamatan pelakunya

9. Peraturan-Peraturan Pencegahan Cedera

    Hampir semua peraturan pertandingan dan perlombaan dicantumkan beberapa ketentuan-ketentuan yang mengatur segala sesuatu agar bahaya dapat dihindarkan termasuk sanksi-sanksi yang timbul akibat pelanggaran yang dilakukan. Bisa dibayangkan apabila seorang petinju yang bertubuh kecil berhadapan dengan lawannya yang bertubuh lebih besar. Pertandingan tidak akan seimbang dan petinju yang bertubuh kecil ini akan mengalami cedera yang lebih besar. Oleh karena itu, cabang olahraga bela diri mengenal pembagian kelas berdasarkan berat badan.

10. Pemanasan Sebelum Melakukan Aktivitas Inti

    Untuk mencegah timbulnya cedera, diperlukan pemanasan yang sangat optimal baik pemanasan statis dan pemanasan dinamis. Selain mencegah timbulnya cedera, pemanasan juga berfungsi meningkatkan kelentukan (elastisitas) otot dan sendi, menambah mutu gerakan, mengurangi ketegangan otot, membantu tubuh merasa rileks, meningkatkan kesiapan tubuh dalam menerima pelatihan dan melancarkan sirkulasi darah

2. Prinsip‐prinsip Dasar Perawatan Cedera Olahraga

1. Segera Setelah Terjadi Cedera (0 sampai dengan 36 jam)

Dalam penanganan pertama dilakukan dengan metode RICE, yaitu :

R = Rest, diistirahatkan

I = Ice, didinginkan (kompres es)

C = Compression, balut tekan

E = Elevation, ditinggikan dari letak jantung

a. Rest    

    Segera istirahatkan bagian yang cedera. Tujuannya adalah untuk mencegah bertambah parahnya cedera dan mengurangi aliran darah (perdarahan) ke area cedera. Waktu istirahat tergantung pada berat ringannya cedera. Bila terjadi cedera di tungkai gunakan kruk untuk menghindari tumpuan pada tungkai yang cedera, dan untuk cedera di lengan gunakan splint.

b. Ice

    Tujuannya adalah melokalisir cedera, mematirasakan ujung syaraf sehingga dapat mengurangi nyeri, mencegah pembengkakan, mengurangi perdarahan (vasokonstriksi). Cara kompres es: es ditempatkan di dalam kantong es atau es dibalut pada handuk kecil, kemudian es tersebut diletakkan pada bagian yang cedera selama 2-3 menit sampai rasa sakit hilang (pembengkakan dirasa berkurang/membaik) intervalnya 20-30 menit. Jangan terlalu lama mengompres karena dapat mengakibatkan rusaknya jaringan tubuh dan vasodilatasi berlebihan. Jika tidak ada es dapat diberikan evaporating lotion, zat-zat kimia yang menguap dan mengambil panas misalnya : chlorethyl spray. Pemberian obat-obatan juga dapat diberikan untuk mengurangi rasa sakit/nyeri misalnya obat-obatan yang tergolong anti inflamasi dan analgesik. Obat-obatan yang tergolong anti inflamasi : papase, anti reumatik, kortikosteroid, dan lain-lain. Obat-obat yang tergolong analgesik : antalgin, neuralgin, panadol, aspirin, asetosal, dan lain-lain.

c. Compression

    Tujuannya adalah untuk mengurangi pembengkakan ssebagai akibat perdarahan dan untuk mengurangi pergerakan. Balut tekan adalah suatu ikatan yang terbuat dari bahan elastis seperti : elastic bandage, tensio krep, atau benda-benda lain yang sejenis. Ikatan harus nyaman dan jangan terlalu kencang karena dapat menyebabkan kematian jaringan-jaringan di sebelah distal ikatan. Tanda ikatan terlalu kencang: denyut nadi bagian distal terhenti atau tidak terasa, cedera semakin membengkak, penderita merasa kesakitan, warna kulit pucat kebirubiruan, dan mati rasa pada daerah yang cedera.

d. Elevation

    Tujuannya adalah mengurangi perdarahan dan mengurangi pembengkakan. Dengan mengangkat bagian cedera lebih tinggi dari letak jantung menyebabkan aliran darah arteri menjadi lambat (melawan gravitasi bumi) dan aliran darah vena menjadi lancer sehingga perdarahan dan pembengkakan berkurang. Hasil-hasil jaringan yang rusak akan lancer dibuang oleh aliran darah balik dan pembuluh limfe.

Dalam menangani cedera baru (0-36 jam) jangan melakukan HARM,

yaitu :

H = Heat, kompres panas

A = Alcohol, alcohol

R = Running, berlari

M = Massage, massase

e. Heat

    Kompres panas tidak boleh dilakukan karena akan menyebabkan peningkatan aliran darah ke bagian yang cedera sehingga menyebabkan pembengkakan semakin parah.

f. Alcohol

    Merendam daerah yang cedera dengan alkohol dan meminum minuman yang mengandung alkohol akan memperparah bagian yang cedera dan menyebabkan pembengkakan semakin parah.

g. Running

    Jangan mencoba untuk berlari, hal ini dapat memperparah bagian yang cedera.

h. Massage

    Massase sangat tidak dianjurkan pada cedera baru, karena jika dilakukan massase akan merusak jaringan yang sudah cedera dan memperparah cedera sehingga penyembuhan bagian yang cedera tidak akan maksimal.

3. 36 Jam Setelah Cedera

    Pemberian kompres panas dapat dilakukan tujuannya mencerai beraikan traumatic effusion atau cairan plasma darah yang keluar dan masuk di sekitar tempat yang cedera sehingga mudah diangkut oleh pembuluh darah balik dan limfe, memperlancar proses penyembuhan dan mengurangi rasa sakit karena kejangnya otot. Pemberian kompres panas intervalnya 20-30 menit. Fisioterapi berupa massage, penyinaran (infra red) menggunakan alat bantu seperti decker atau elastic bandage dapat diterapkan pada tahap ini.

4. Jika Bagian yang Cedera Dapat Digunakan dan Hampir Normal

    Massage masih dapat dilakukan untuk membantu proses penyembuhan. Untuk memelihara kemungkinan gerak normal dari sendi yang mengalami cedera, dapat dilakukan latihan-latihan penyembuhan secara bertahap sedikit demi sedikit sampai batas nyeri. Kalau sendi tidak dilatih, gerakan dapat menjadi terbatas karena terbentuknya penebalan dan pelekatan pada jaringan yang mengalami proses penyembuhan. Latihan-latihan ini berupa latihan mobility, yakni menggerakkan sendi sejauh mungkin sampai batas rasa sakit.

5. Jika Bagian yang Cedera Sudah Sembuh dan Latihan Dapat Dimulai

    Bagian yang cedera dipersiapkan agar kuat terhadap tekanan-tekanan dan tarikan-tarikan yang terdapat pada cabang olahraga si penderita tersebut. Latihan berat yang terprogram sudah dapat diterapkan.


3. Prinsip Penanganan Cedera Olahraga

C = Cepat, tepat, berani, dan manusiawi merupakan kunci penanganan pertama

E = Es merupakan benda penting yang harus tersedia selama dan sesudah latihan

D = Diagnosa jenis cedera dengan penulusuran kejadiannya, tanda, dan gejala

E = Elevasi segera lokasi cedera sehingga lebih tinggi dari jantung

R = Reposisi semua jenis keseleo dengan menarik sendi segera (neural shock)

A = Atasi perdarahan dengan menekan dan menutup luka dengan kain bersih

O = Obati nyeri dan bengkak segera mungkin

L = Latihan daya tahan tetap dilakukan

A = Analisis penyebab cedera dan hindari

H = Hilangkan trauma psikologis dengan latihan

R = Relaksasi dari latihan apabila terjadi cedera

A = Atasi bengkak dan nyeri dengan massage bila waktu cedera lebih dari 36 jam

G = Gerakkan bagian tubuh yang mengalami cedera sedikit demi sedikit sampai batas nyeri jika hampir sembuh

A = Agar meminimalkan cedera, dapat dilakukan dengan pemanasan yang baik dan benar (pemanasan statis kemudian dilanjutkan dengan pemanasan dinamis secara sistematis dari kepala ke kaki atau sebaliknya)

PERCAYA DIRI DALAM OLAHRAGA

 Hakim (2002) menyatakan kepercayaan diri dapat diartikan sebagai suatu keyakinan sesorang dari segala aspek kelebihan yang dimilikinya dan ...