Tindakan pertama dalam sistem RICE dalam olahraga adalah Rest (diam). Setelah terjadi cedera, segera berhenti berolahraga atau aktivitas yang menyebabkan cedera untuk meminimalkan kerusakan lebih lanjut pada area yang terluka
Tindakan pertama dalam sistem RICE dalam olahraga adalah Rest (diam). Setelah terjadi cedera, segera berhenti berolahraga atau aktivitas yang menyebabkan cedera untuk meminimalkan kerusakan lebih lanjut pada area yang terluka
Prinsip-prinsip penanganan cedera olahraga
Berikut ini adalah beberapa prinsip penanganan cedera olahraga:
RICE: Rest, Ice, Compression, Elevation
Istirahatkan bagian yang cidera.
Gunakan es untuk meredakan pembengkakan dan rasa sakit.
Tekan bagian yang cidera dengan perban atau kain untuk mengurangi pembengkakan.
Angkat bagian yang cidera di atas jantung untuk mengurangi pembengkakan.
Evaluasi cedera: Tentukan tingkat keparahan cedera dan apakah harus mencari perawatan medis lebih lanjut.
Rehabilitasi: Setelah fase perawatan akut, seperti penggunaan RICE, cedera memerlukan perawatan jangka panjang untuk pulih secara optimal. Ini dapat mencakup rehabilitasi fisik untuk merawat otot dan jaringan sekitarnya, serta rencana dengan spesialis untuk membangun kembali kekuatan dan fleksibilitas.
Pencegahan: Selalu melindungi bagian tubuh yang rentan terhadap cedera dengan pemanasan yang cukup, penggunaan alat pelindung seperti pelindung kepala, dan penggunaan teknik olahraga yang benar untuk menghindari cedera serius.
Kembali secara bertahap: Setelah melalui fase perawatan dan rehabilitasi, atlet harus kembali ke olahraga secara perlahan dan hati-hati untuk menghindari cedera yang lebih serius dan memaksimalkan kekuatan mereka dan kemampuan performa.
Cairan elektrolit dan stress karena panas dalam. Olahraga
Olahraga dan aktivitas fisik yang intens dapat menyebabkan keringat berlebih dan kehilangan cairan tubuh serta elektrolit seperti natrium, kalium, dan magnesium. Hal ini dapat menyebabkan stress karena panas dalam pada tubuh. Oleh karena itu, penting untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang sebelum, selama, dan setelah olahraga.
Anda dapat mengganti cairan dan elektrolit dengan minum air putih, minuman olahraga atau minuman elektrolit yang mengandung natrium, kalium, dan magnesium. Selain itu, konsumsi makanan yang kaya elektrolit seperti pisang, kacang-kacangan, sayuran hijau, dan buah-buahan juga dapat membantu mengganti elektrolit yang hilang selama olahraga.
Namun, jika Anda mengalami gejala dehidrasi atau stress karena panas dalam yang parah seperti pusing, mual, muntah, dan kelemahan, segera hentikan olahraga dan minum cairan elektrolit atau berkonsultasi dengan dokter. Penting untuk selalu menjaga asupan cairan dan elektrolit yang cukup agar tubuh tetap sehat dan berfungsi dengan baik.
Jenis cedera berat dan cedera lainnya
Cedera berat adalah jenis cedera yang dapat mengancam jiwa atau menyebabkan kerusakan permanen pada tubuh. Beberapa contoh cedera berat antara lain:
Cedera kepala berat - terjadi ketika terdapat trauma pada kepala yang mengakibatkan perdarahan otak atau kerusakan saraf otak.
Cedera tulang belakang - terjadi ketika terdapat kerusakan pada tulang belakang, yang dapat menyebabkan kelumpuhan atau kehilangan fungsi gerak pada tubuh.
Luka bakar parah - terjadi ketika terdapat kerusakan pada kulit akibat panas, api atau bahan kimia. Dalam kasus yang parah, luka bakar dapat menyebabkan kematian.
Cedera tulang - terjadi ketika terdapat retak atau patah pada tulang, yang dapat menyebabkan nyeri, bengkak, dan hilangnya fungsi dari anggota tubuh yang terlibat.
Sedangkan cedera lainnya meliputi:
Memar - terjadi ketika terdapat pembengkakan dan memar di area tertentu pada tubuh.
Cedera ligamen - terjadi ketika terdapat kerusakan pada ligamen, yang dapat menyebabkan nyeri dan kehilangan fungsi gerak pada sendi yang terlibat.
Cedera otot - terjadi ketika terdapat kerusakan pada otot, yang dapat menyebabkan kelemahan dan kehilangan fungsi gerak pada anggota tubuh yang terlibat.
Cedera sendi - terjadi ketika terdapat kerusakan pada sendi, yang dapat menyebabkan nyeri dan kehilangan fungsi gerak pada sendi yang terlibat
Cidera ringan biasanya terjadi ketika ada sedikit kerusakan pada bagian tubuh seperti lecet, memar, atau terkilir ringan. Contohnya bisa ketika kamu jatuh atau memukul sesuatu tanpa disengaja. Sedangkan cidera sedang lebih serius dan bisa menyebabkan kerusakan pada organ atau jaringan tubuh
JENIS-JENIS
CEDERA OLAHRAGA DAN
PENYEBAB
TERJADINYA CEDERA OLAHRAGA
Tujuan Pembelajaran
Umum:
Dalam
pembelajaran ini mahasiswa/mahasiswi mampu mengerti dan memahami tentang
jenis-jenis cedera olahraga serta penyebab terjadinya cedera olahraga.
Tujuan Pembelajaran
Khusus:
Setelah
mencermati materi ini mahasiswa/mahasiswi mengerti dan memahami tentang:
1. Pengertian cedera
olahraga.
2. Bagian-bagian tubuh
yang sering mengalami cedera olahraga.
3. Jenis-jenis cedera
olahraga.
4. Penyebab terjadinya
cedera olahraga.
5. Tanda-tanda reaksi
radang setempat akibat cedera olahraga.
2.1 CEDERA OLAHRAGA
Seiring
dengan manfaat yang dapat dirasakan dalam olahraga juga terdapat kenaikkan
terjadinya cedera yang dialami, terutama sekali cedera yang parah/berlarut.
Adanya aktivitas-aktivitas olahraga yang semakin meningkat dengan disertai
terjadinya cedera yang menyertainya telah menimbulkan permintaan yang meningkat
akan pengetahuan tentang
BAB 2
6
Pencegahan dan Peraatan Cedera Olahraga bagaimana agar tubuh kita dapat merespon
gejala-gejala yang terjadi. Masyarakat telah mengalami kemajuan pada suatu
keadaan dimana mereka tidak hanya ingin mengetahui manfaat yang dirasakan dari olahraga
yang telah dilakukannya tetapi mereka juga ingin mengetahui cedera itu dapat
terjadi dan langkah terbaik yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan atau
bagaimana caranya mencegah terjadinya cederacedera tersebut. Cedera olahraga
(sport injuries) adalah segala macam cedera yang timbul, baik pada waktu
latihan, berolahraga, pertandingan olahraga ataupun sesudahnya. Pengetahuan
tentang cedera olahraga berguna untuk mempelajari cara terjadinya cedera
olahraga, mengobati/menolong/menanggulangi (kuratif), serta tindakan pencegahan
(kuratif).
2.2 Bagian‐bagian Tubuh
yang Sering Mengalami Cedera
Olahraga
Distribusi persentase berdasarkan bagian-bagian tubuh yang mengalami
cedera:
a. Kepala 1%
b. Leher 1,5%
c. Lengan 14%
d. Badan 1%
e. Punggung 16%
f. Tangan dan
Pergelangan Tangan 4%
g. Pinggang/Pinggul
5,5%
h. Paha 9%
i. Lutut 22,5%
j. Kaki/Tungkai Bawah
10%
k. Tumit 14%
l. Telapak Kaki 1,5%
Sumber: Cedera Olahraga
(Alit Arsani, 2006)
Jenis-jenis
Cedera Olahraga dan Penyebab Terjadinya Olahraga 7 Lutut memiliki persentase
cedera tertinggi karena berfungsi ganda, yaitu selain sebagai penggerak, lutut
juga berfungsi sebagai penahan berat badan sehingga kemungkinan cederanya
semakin tinggi.
2.3 Jenis‐jenis Cedera
Olahraga
2.3.1 Berdasarkan waktu
terjadinya cedera:
a. Cedera akut, adalah
suatu cedera berat yang terjadi secara mendadak/tiba-tiba (beberapa jam yang
lalu) seperti: cedera goresan, robek pada ligament, atau patah tulang karena
terjatuh. Tanda dan gejalanya: sakit, nyeri tekan, kemerahan pada kulit, kulit
hangat, dan inflamasi.
b. Cedera kronis,
adalah suatu cedera yang terjadi/berkembang secara lambat seperti: cedera pada
otot hamstring yang mengalami cedera pada level rendah misalnya kram, namun
secara berulang-ulang mengalami cedera yang berulang-ulang dalam jangka waktu
yang lama dapat menyebabkan cedera pada level tinggi sehingga menyebabkan otot
hamstring mengalami perobekan/putus total.
Tanda dan gejalanya:
gejala sakit yang timbul dapat hilang dalam beberapa waktu tertentu namun dapat
timbul kembali, biasanya karena overuse atau cedera akut yang tidak sembuh
sempurna.
2.3.2 Berdasarkan berat
ringannya cedera:
a. Cedera ringan,
adalah cedera yang tidak diikuti kerusakan yang berarti
pada jaringan tubuh
misalnya: kekakuan dan kelelahan otot. Cara penanganan pada cedera ini tidak
diperlukan pengobatan yang khusus karena akan sembuh dengan sendirinya setelah
istirahat beberapa waktu.
b. Cedera berat, adalah
cedera yang serius dimana pada cedera tersebut
ditemukan adanya
kerusakan pada jaringan tubuh misalnya: robeknya otot, robeknya ligament,
maupun patah tulang (fraktur). 8 Pencegahan dan Peraatan Cedera Olahraga.
2.3.3 Berdasarkan
Bagian-bagian Tubuh/Jaringan yang Terkena
Cedera
a. Jaringan lunak,
terdiri dari: kulit, jaringan ikat, pembuluh darah, saraf, otot, tendon, dan
ligament.
b. Jaringan keras,
terdiri dari: tulang, tulang rawan, dan sendi
2.4 Penyebab Terjadinya
Cedera Olahraga
Penyebab terjadinya
cedera olahraga disebabkan oleh 3 faktor utama yaitu:
1. Sebab-sebab yang
berasal dari dalam (internal violence)
Merupakan cedera
olahraga yang terjadi karena adanya rangsang/pengaruh yang berasal dari dalam
individu itu sendiri, misalnya:
a. Koordinasi otot-otot
dan sendi yang kurang sempurna sehingga menimbulkan gerakan-gerakan yang salah.
b. Kelainan struktural
tubuh (ukuran tungkai/kaki yang tidak sama panjangnya).
c. Kurangnya pemanasan
(warming up), apabila pemanasan ini tidak dilaksanakan dengan baik/tidak
memadai akan menyebabkan latihan fisik yang terjadi secara fisiologi tidak
dapat diterima oleh tubuh karena otot belum siap menerima pembebanan. Jadi
pemanasan itu penting agar tubuh dapat beradaptasi terlebih dahulu sehingga mengurangi
resiko cedera akibat kurang elastisitas otot dan fleksibilitas sendi.
d. Kurangnya
konsentrasi.
e. Keadaan fisik dan
mental yang lemah, kondisi tubuh yang kurang baik sebaiknya jangan dipaksakan
untuk berolahraga karena jaringanjaringan tubuh kekurangan sistem imun dan
lemahnya system koordinasi.
f. Kelemahan pada otot,
tendon, ligament.
g. Umur, kekuatan otot
pada pubertas mencapai 70-80% dan mecapai puncaknya pada usia 25-30 tahun, selanjutnya
mengalami penurunan secara bertahap dengan pertambahan usia. Setelah usia 30
tahun, seseorang akan kehilangan 3-5% jaringan otot total setiap 10 tahun. Kekuatan
otot pada usia 65 tahun hanya tinggal 65-70%. Sehingga semakin bertambahnya
usia maka, semakin berpengaruh terhadap kondisi fisik seseorang dan lamanya
proses penyembuhan akibat cedera.
h.
Keterampilan/kemampuan, keterampilan seorang atlet/olahragawan yang masih
rendah akan lebih mudah dan lebih sering mengalami cedera dibandingkan dengan
seorang atlet/ olahragawan yang telah terampil. Maka semakin bagus kemampuan
motoriknya maka semakin kecil kemungkinan terkena cedera.
i. Pengalaman, seorang
atlet yang telah berpengalaman akan lebih kecil kemungkinan terkena cedera bila
dibandingkan dengan atlet yang masih belum berpengalaman. Hal ini dikarenakan
pengalaman seorang atlet senior atau atlet yang banyak pengalaman dalam
bertanding telah menyadari akan resiko dari terjadinya cedera sehingga resiko terjadinya
cedera akan lebih kecil dibandingkan dengan seorang atlet pemula.
j. Penyembuhan cedera
sebelumnya yang tidak sempurna (habitualis). Hal ini dapat terjadi karena
kapsul sendi/ligament kendur.
k. Cedera yang timbul
bisa berupa: robeknya otot, tendon, dan ligament.
2. Sebab-sebab yang
berasal dari luar (eksternal violence) Merupakan cedera olahraga yang terjadi
karena adanya pengaruh dari faktor luar individu yang memberikan pengaruh
terhadap individu
tersebut, misalnya :
a. Kontak bodi dalam
olahraga (body contact sport), misalnya: sepak bola,
tinju, karate, dan
sebagainya.
b. Alat-alat olahraga,
misalnya: bola, raket, stick hockey, dan lain-lain.
c. Kondisi lapangan,
misalnya: keadaan lapangan yang tidak memenuhi standar/persyaratan, keadaan
lapangan/lintasan balap motor/mobil yang berlubang-lubang.
d. Kondisi lingkungan,
cuaca yang terlalu dingin/panas selain dapat menganggu penampilan seorang atlet
juga dapat mencederai atlet itu sendiri.
e. Gizi, bila seorang
atlet memiliki keseimbangan gizi yang baik maka lebih kecil kemungkinan
mendapatkan cedera, dan bila cedera pun akan lebih cepat proses penyembuhannya
karena gizi yang dibutuhkan tubuh untuk penyembuhan terpenuhi dengan baik.
f. Penonton, penonton
yang fanatik biasanya melakukan apa saja saat timnya kalah bahkan dapat
mencederai pemain lawan timnya.
g. Wasit, wasit yang
kurang tegas dalam memimpin pertandingan dan kurang memahami peraturan terutama
pertandingan yang memerlukan kontak fisik akan dapat mengakibatkan atletnya
cedera.
h. Cedera yang timbul
bisa berupa: robeknya otot, tendon, dan ligament.
3. Pemakaian otot dan
tendon yang berlebihan atau terlalu lelah (over use)
Koordinasi otot yang
terus menerus akan mengakibatkan otot dan tendon yang digunakan untuk aktivitas
olahraga terlalu lelah bahkan bisa berakibat pada cedera. Tingkat keterlatihan
yang belum memadai sewaktumeningkatkan dosis latihan juga dapat mengakibatkan
over use. Cedera akibat over use bersifat kronis, bagian tubuh yang mengalami
cedera pada level rendah misalnya kram, secara berulang-ulang mengalami cedera
yang berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan cedera pada
level tinggi sehingga menyebabkan robek pada otot, otot putus total, bahkan
fraktur.
Cedera yang timbul bisa
berupa: kram, strain (cedera pada otot atau tendon), sprain (cedera pada
ligament), robek otot, robek tendon, robek ligament, otot putus total, dan
fraktur.
2.5 Tanda‐Tanda Reaksi
Radang Setempat Akibat Cedera Olahraga
Pada
bagian tubuh yang mengalami cedera olahraga terjadi reaksi radang setempat atau
inflamasi. Inflamasi adalah respon individu terhadap patogen (organisme atau
virus penyebab penyakit), dalam jaringan berupa rangkaian reaksi yang terjadi
pada tempat jaringan yang mengalami cedera, seperti terluka, terbakar dan lain
sebagainya. Inflamasi atau peradangan setempat ditandai dengan adanya
tanda-tanda sebagai berikut:
1. Kalor: hangat, pada
saat mengalami cedera olahraga bagian tubuh yang cedera akan terasa hangat
apabila disentuh.
2. Rubor: merah, pada
saat mengalami cedera olahraga disekitar bagian tubuh yang mengalami cedera
tersebut akan terlihat warna kemerahan.
3. Dolor: nyeri atau
sakit, tentu saja akan terasa rasa nyeri atau sakit pada bagian tubuh yang
mengalami cedera olahraga.
4. Tumor: bengkak,
setelah beberapa saat mengalami cedera olahraga biasanya akan akan terjadi
pembengkakan pada daerah yang cedera.
5. Fungsiolesi: daya
pergerakan menurun dan kemungkinan disfungsi organ atau jaringan, bagian tubuh
yang mengalami cedera akan mengakibatkan terjadinya penurunan pergerakan bahkan
tidak bisa dipergunakan lagi.
Setiap kali lari
pastikan kamu memulai dengan pemanasan dan menutupnya dengan pendinginan.
Kenapa penting untuk dilakukan?
Pemanasan yang baik
memperlancar aliran darah, dan memastikan otot-ototmu tersuplai dengan oksigen.
Pemanasan sebelum mulai olahraga juga menaikkan temperatur otot agar lebih
fleksibel dan efisien. Dengan menaikkan detak jantung secara perlahan,
pemanasan juga membantu agar kerja jantung tidak naik dengan tiba-tiba.
Sama pentingnya dengan
pemanasan adalah sesi pendinginan. Berhenti mendadak bisa membuatmu pusing
karena detak jantung dan tekanan darah turun secara tiba-tiba.
Kiat Melakukan
Pemanasan Dan Pendinginan
⦁ Jangan memulai dengan stretching. Lakukan
aerobik ringan selama 5-10 menit untuk melonggarkan otot-otot dan memanaskan
tubuh. Coba berjalan cepat atau berbaris.
⦁ Saat mulai lari, jangan langsung kencang.
Tapi mulai dengan jogging pelan dan kemudian secara perlahan meningkatkan
kecepatan. Kamu harus bisa bernapas dengan mudah saat lari. Kalau mulai
kehabisan napas, kurangi kecepatan.
⦁ Setelah menyelesaikan lari, lakukan
pendinginan dengan berjalan atau jogging selama 5-10 menit.
⦁ Stretching bisa dilakukan bergantian pada
seluruh bagian tubuh. Lakukan selama 15-30 detik untuk tiap anggota tubuh
Hakim (2002) menyatakan kepercayaan diri dapat diartikan sebagai suatu keyakinan sesorang dari segala aspek kelebihan yang dimilikinya dan ...