Faktor kebugaran jasmani dan psikologi
Sehat/bugar merupakan suatu konsep yang tidak dapat dengan mudah, diartikan meskipun dapat dirasakan dan diamati keadaannya. Hal ini terjadi karena setiap manusia pandangan yang berbeda tentang konsep sehat,
1. Pengertian Kebugaran Jasmani
Kebugaran jasmani bagi masyarakat
pada umumnya banyak yang
belum mengenal, mereka lebih
mengenal kesegaran jasmani. Padahal apabila
dilihat dari asal katanya ialah
kebugaran jasmani berasal dari kata physical
fitness yang artinya kebugaran
jasmani atau kesegaran jasmani (Bambang
Priyonoadi dkk, 2001: 4),
sehingga dapat dikatakan bahwa istilah kebugaran
jasmani sama dengan kesegaran
jasmani.
Menurut Suhartono yang dikutip
oleh Suryanto, dkk. (1998: 5),
menyatakan bahwa kebugaran dapat
digolongkan menjadi empat macam,
yaitu:
a. Kebugaran jasmani (physical
fitness)
Kebugaran jasmani merupakan satu
aspek fisik dari kebugaran
menyeluruh yang memberikan kesanggupan
kepada seseorang untuk
melakukan pekerjaan produktif
dalam kehidupan sehari-hari, tanpa adanya
kelelahan yang berlebihan dan
masih mempunyai cadangan tenaga untuk
menikmati waktu luangnya maupun
melakukan pekerjaan yang mendadak
dengan baik.
b. Kebugaran mental (mental
fitness)
Kebugaran mental yaitu suatu
keadaan dimana seseorang bisa
memiliki pengertian, pandangan,
pengetahuan, kecerdasan, moral dan
semangat kerja yang baik serta
mampu mengatasi permasalahan yang ada
pada diri sendiri maupun masyarakat.
c. Kebugaran emosi (emotional
fitness)
Kebugaran emosi yaitu kebugaran
yang ditandai dengan adanya
rasa ketenangan dan bebas dari
tekanan keluarga maupun lingkungan
masyarakat serta mampu menghadapi
dan mengatasi kenyataan yang ada.
d. Kebugaran sosial (social
fitness)
Kebugaran sosial merupakan
kemampuan seseorang untuk
menyesuaikan, menempatkan dan
mengabdikan diri kepada lingkungan,
keluarga dan masyarakat.
Adapun menurut Djoko Pekik
Irianto (2004: 2-3) kebugaran dapat
digolongkan menjadi tiga
kelompok, yaitu:
a. Kebugaran statis adalah
keadaan seeorang yang bebas dari penyakit
dan cacat atau disebut sehat.
b. Kebugaran dinamis adalah
kemampun seseorang untuk bekerja secara
efisien yang tidak memerlukan
keterampilan khusus, misalnya
berjalan, berlari, melompat,
mengangkat.
c. Kebugaran motoris merupakan
kemampuan seseorang untuk bekerja
secara efisien yang menuntut
keterampilan khusus.
Kebugaran fisik (physical
fitness), yakni kemampuan seseorang
melakukan kerja sehari-hari
secara efisien tanpa timbul kelelahan yang
berlebihan sehingga masih dapat
menikmati waktu luangnya (Djoko Pekik
Irianto, 2004: 2). Kebugaran
jasmani menurut Arma Abdoellah (1994: 146)
adalah kemampuan untuk dapat
melaksanakan tugas sehari-hari dengan
semangat tanpa rasa lelah yang
berlebihan dan dengan penuh energi
melakukan dan menikmati kegiatan
pada waktu luang dan dapat menghadapi
keadaan darurat bila datang.
Menurut Sadoso Sumosardjuno (1992: 19),
kebugaran jasmani adalah
kemampuan seseorang untuk menunaikan tugas
sehari-hari dengan gampang, tanpa
merasa lelah yang berlebihan, dan masih
mempunyai sisa atau cadangan
tenaga untuk menikmati waktu senggangnya,
dan untuk keperluan-keperluan
yang mendadak.
2. Pengertian Kebugaran Mental
Sehat merupakan suatu konsep yang
tidak dapat dengan mudah
diartikan meskipun dapat
dirasakan dan diamati keadaannya. Hal ini terjadi
karena setiap manusia pandangan
yang berbeda tentang konsep sehat,
sehingga dapat dikatakan bahwa
factor subjektifitas dan kultur memberikan
pengaruh tentang pemahaman dan
pengertian orang terhadap konsep sehat.
Sebagai acuan untuk memahami
konsep “sehat”, World Health Organization
(WHO) merumuskan dalam cakupan
yang luas tentang konsep sehat yaitu
keadaan yang sempurna baik fisik,
mental maupun social, dan tidak hanya
terbebas dari penyakit atau
kelemahan (cacat).
Suatu keadaan sehat memiliki
kebalikan yaitu keadaan sakit. Menurut
Calhoun yang dikutip oleh
Moeljono Notosudirdjo (2001: 4) membagi secara
khusus pengertian sakit memiliki
tiga pandangan dimensional yaitu:
a. Disease berdimensi biologis
yaitu penyakit berarti suatu penyimpangan
yang simptomnya dapat diketahui
melalui diagnosis. Penyakit ini tetap ada
tanpa dipengaruhi oleh keyakinan
orang atau masyarakat lain terhadapnya.
b. Illness berdimensi psikologis
adalah konsep psikologi yang menunjuk
pada perasaan, persepsi, atau
pengalaman subjektif seseorang tentang
ketidaksehatannya atau keadaan
tubuh yang dirasa tidak enak. Seseorang
terjangkit suatu penyakit belum
tentu merasakan sakit tetapi dapat
dirasakan orang lain.
c. Sickness berdimensi sosiologis
merupakan konsep sosiologis yang
bermakna sebagai penerimaan
social terhadap seseorang sebagai orang
yang sedang mengalami kesakitan.
Sakit dalam konsep ini berkenaan
dengan peran khusus yang
dilakukan sehubungan dengan perasaan
kesakitannya dan sekaligus
memiliki tanggungjawab baru yaitu mencari
kesembuhan.
Pengertian sehat dan sakit
tersebut telah memberikan pemahaman
dan pemaknaan tentang sehat dan
sakit itu memiliki cakupan yang sangat
luas. Oleh karena itu dapat
disimpulkan bahwa sehat itu merupakan suatu
kondisi yang seimbang antara
biologis, psikologis dan sosologis sehingga
dapat memperoleh kesempurnaan
fisik, mental dan social. Sedangkan
menurut Moeljono Notosudirdjo
(2001: 6) secara singkat kesehatan itu dapat
diuraikan sebagai berikut:
a. Merupakan suatu pengertian
(construct) yang sangat longgar yang
dipahami berbeda oleh masyarakat;
b. Bersifat kualitati karena
dapat dimengerti menurut perasaan dan persepsi,
dan
c. Keadaan yang bersifat kontinum
karena posisinya berada pada dua titik
eksterm yang berlawanan yaitu
titik sehat pada satu sisi dan titik sakit pada
sisi lain.
Menurut Karitini Kartono (1989:
3), mental berasal dari kata Latin
mens, mentis yang artinya jiwa,
nyawa, sukma, roh, semangat. Mental juga
sering disebut psiko atau psyche
berasal dari kata Yunani psuche yang
artinya nafas, asas kehidupan,
hidup, jiwa, roh, sukma, semangat. Sedang
menurut Moeljono Notosudirdjo
(2001: 7) psikis atau mental merupakan
bagian dari manusia yang bersifat
non material, yang hanya diketahui dari
gejala-gejalanya, atau apa yang
disebut dengan gejala psikis seperti dorongan
(drive), motivasi (motivation),
kemauan (willness), kognitif (cognition),
kepribadian (personality), dan
perasaan (feeling).
Kondisi manusia dalam kehidupan
ini tidak selamanya sehat. Pada
suatu saat manusia pasti akan
mengalami gangguan fisiologis pada fungsi
faal tubuh, hal ini akan dapat
dengan mudah dikenal karena berkaitan dengan
fisik manusia. Akan tetapi selain
gangguan fisiologis juga sering terjadi
gangguan mental pada manusia.
Untuk memahami dan mengetahui gangguan
mental ini lebih sulit
dibandingkan mengenal gangguan fisiologis, kerana
persepsi setiap orang berbeda
terhadap ganguan mental sangat berbeda. Oleh
karena itu perlu dikembangkan
ilmu yang mempelajari tentang kesehatan
mental dan bagaimana cara yang
paling tepat untuk meningkatkan dan
mempertahankan kesehatan mental
sehingga diperoleh ketenangan jiwa.
Ilmu kesehatan mental adalah ilmu
yang mempelajari tentang
masalah kesehatan mental atau
jiwa, bertujuan mencegah timbulnya ganguan
atau penyakit mental dan gangguan
emosi, dan berusaha mengurangi atau
menyembuhkan penyakit mental,
serta memajukan kesehatan jiwa rakyat
(Kartini Kartono, 1989: 3). Dapat
disimpulkan pula bahwa kesehatan mental
merupakan suatu kondisi
psikologis manusia yang sedang dalam keadaan
normal tanpa mengalami
gangguan-gangguan psikis seperti depresi, stress,
gangguan kepribadian, dan lain
sebagainya.
Menurut Moeljono Notosudirdjo
(2001: 16), dalam mempelajari
kebugaran mental pada berbagai
bidang ilmu pada prinsipnya memiliki
tujuan untuk:
a. Memahami makna kesehatan
mental dan faktor-faktor penyebabnya.
b. Memahami pendekatan-pendekatan
yang digunakan dalam penanganan
kesehatan mental.
c. Memiliki kemampuan dasar dalam
usaha peningkatan dan pencegahan
kesehatan mental masyarakat.
d. Memiliki sikap yang proaktif
dan mampu memanfaatkan barbagai sumber
daya dalam upaya penanganan
kesehatan mental dalam masyarakat.
e. Meningkatkan kesehatan mental
masyarakat dan mengurangi timbulnya
gangguan mental masyarakat.
Dari beberapa tujuan kesehatan
mental tersebut manusia hendaknya
sadar akan pentingnya kesehatan
mental, sehingga sangat diperlukan
kesadaran dari individu manusia
untuk melakukan kegiatan-kegiatan dalam
pemenuhan kebutuhan mental.
3. Aktivitas Outbond
Kebugaran mental bukan merupakan
suatu disiplin ilmu yang berdiri
sendiri. Ada berbagai bidang ilmu
yang memberi kontribusi bagi kesehatan
mental seperti ilmu kedokteran,
psikologi, sosio-antropologi, ilmu
pendidikan, ilmu agama, dan tidak
menutup kemungkinan bagi ilmu
olahraga. Pada ilmu olahraga
secara bermakna juga memberi kontribusi bagi
pemahaman dan penanganan
kesehatan mental manusia. Hal ini dapat dilihat
bahwa dengan olahraga dapat
membantu mengurangi depresi, stress,
meningkatkan motivasi, dan
menumbuhkan sikap sportif pada individu
manusia.
Ada beberapa model dan bentuk
pengembangan ilmu olahraga untuk
meningkatkan kebugaran jasmani
dan mental seperti kegiatan yang sedang
popular saat ini yaitu kegiatan
di alam terbuka (outbond). Dengan kegiatan
ini diharapkan dapat memberi
kontribusi yang positif terhadap peningkatan
kebugaran jasmani dan juga
mental. Kegiatan ini merupakan aktivitas
olahraga yang di desain dalam
bentuk permainan untuk memperoleh
kesenangan lahir dan batin.
Menurut Djamaludin Ancok
(2006:4-6) ada tiga alasan mengapa
metode outbond ini banyak
digemari oleh kalangan masyarakat luas yaitu
pertama, metode ini adalah sebuah
simulasi kehidupan artinya segala macam
bentuk aktivitas di dalam
pelatihan adalah merupakan bentuk sederhana dari
kehidupan yang sangat kompleks.
Kedua, metode ini menggunakan
pendekatan metode belajar melalui
pengalaman artinya metode out bond ini
memudahkan pemahaman tentang
konsep belajar karena peserta terlibat
langsung secara kognitif
(pikiran), afeksi (emosi) dan psikomotorik (gerakan
motorik). Ketiga, metode ini
penuh kegembiraan karena dilakukan dengan
permainan, artinya metode ini
sebagai sarana untuk menemukan kembali
pengalaman masa kecil yang penuh
kegembiraan, dan memberikan sebuah
hiburan yang menarik bagi peserta
yang memiliki pengalaman masa kecil
yang kurang bahagia.
Adapun manfaat dari aktivitas
outbond adalah:
a. Melatih Daya Tahan Paru
Jantung,
b. Melatih Mental dan Keberanian
mengambil resiko untuk mencapai suatu
tujuan,
c. Membangun kepercayaan diri,
d. Melatih membuat keputusan
dengan cepat, tepat, cermat dan bijaksana,
e. Memahami arti penting
kerjasama kelompok dalam lingkungan kerja,
f. Memahami pola pikir sistimatis
dalam menyelesaikan masalah kelompok,
g. Mampu memecahkan masalah
secara kreatif,
h. Melatih kemampuan
berkomunikasi secara efektif,
i. Meningkatkan rasa percaya
diri,
j. Melatih kejujuran dan
sportifitas.
PEMBAHASAN
Kemampuan seorang individu untuk
melakukan pekerjaan seberat apapun
dalam kehidupan sehari-hari
dengan tidak mengalami kelelahan yang berlebihan,
sehingga masih memiliki tenaga
atau energi untuk mengisi waktu luangnya dan
masih mampu melakukan pekerjaan
yang mendadak adalah dambaan setiap
manusia. Seseorang dapat
dikatakan bugar jasmaninya apabila telah mampu
menyelesaikan semua beban kerja
untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan tidak
merasakan kelelahan. Salah satu
cara untuk memperoleh kebugaran jasmani
adalah dengan berolahraga secara
teratur, terukur dan terprogram.