Kamis, 04 Mei 2023

PRINSIP-PRINSIP PENANGANAN CEDERA OLAHRAGA



 Prinsip-prinsip penanganan cedera olahraga


Berikut ini adalah beberapa prinsip penanganan cedera olahraga:


RICE: Rest, Ice, Compression, Elevation


Istirahatkan bagian yang cidera.

Gunakan es untuk meredakan pembengkakan dan rasa sakit.

Tekan bagian yang cidera dengan perban atau kain untuk mengurangi pembengkakan.

Angkat bagian yang cidera di atas jantung untuk mengurangi pembengkakan.

Evaluasi cedera: Tentukan tingkat keparahan cedera dan apakah harus mencari perawatan medis lebih lanjut.


Rehabilitasi: Setelah fase perawatan akut, seperti penggunaan RICE, cedera memerlukan perawatan jangka panjang untuk pulih secara optimal. Ini dapat mencakup rehabilitasi fisik untuk merawat otot dan jaringan sekitarnya, serta rencana dengan spesialis untuk membangun kembali kekuatan dan fleksibilitas.


Pencegahan: Selalu melindungi bagian tubuh yang rentan terhadap cedera dengan pemanasan yang cukup, penggunaan alat pelindung seperti pelindung kepala, dan penggunaan teknik olahraga yang benar untuk menghindari cedera serius.


Kembali secara bertahap: Setelah melalui fase perawatan dan rehabilitasi, atlet harus kembali ke olahraga secara perlahan dan hati-hati untuk menghindari cedera yang lebih serius dan memaksimalkan kekuatan mereka dan kemampuan performa.

CAIRAN ELEKTROLIT DAN STRESS KARENA PANAS DALAM OLAHRAGA



Cairan elektrolit dan stress karena panas dalam. Olahraga


Olahraga dan aktivitas fisik yang intens dapat menyebabkan keringat berlebih dan kehilangan cairan tubuh serta elektrolit seperti natrium, kalium, dan magnesium. Hal ini dapat menyebabkan stress karena panas dalam pada tubuh. Oleh karena itu, penting untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang sebelum, selama, dan setelah olahraga.


Anda dapat mengganti cairan dan elektrolit dengan minum air putih, minuman olahraga atau minuman elektrolit yang mengandung natrium, kalium, dan magnesium. Selain itu, konsumsi makanan yang kaya elektrolit seperti pisang, kacang-kacangan, sayuran hijau, dan buah-buahan juga dapat membantu mengganti elektrolit yang hilang selama olahraga.


Namun, jika Anda mengalami gejala dehidrasi atau stress karena panas dalam yang parah seperti pusing, mual, muntah, dan kelemahan, segera hentikan olahraga dan minum cairan elektrolit atau berkonsultasi dengan dokter. Penting untuk selalu menjaga asupan cairan dan elektrolit yang cukup agar tubuh tetap sehat dan berfungsi dengan baik.

Jenis cedera berat dan cedera lainnya

 


Jenis cedera berat dan cedera lainnya

Cedera berat adalah jenis cedera yang dapat mengancam jiwa atau menyebabkan kerusakan permanen pada tubuh. Beberapa contoh cedera berat antara lain:


Cedera kepala berat - terjadi ketika terdapat trauma pada kepala yang mengakibatkan perdarahan otak atau kerusakan saraf otak.

Cedera tulang belakang - terjadi ketika terdapat kerusakan pada tulang belakang, yang dapat menyebabkan kelumpuhan atau kehilangan fungsi gerak pada tubuh.

Luka bakar parah - terjadi ketika terdapat kerusakan pada kulit akibat panas, api atau bahan kimia. Dalam kasus yang parah, luka bakar dapat menyebabkan kematian.

Cedera tulang - terjadi ketika terdapat retak atau patah pada tulang, yang dapat menyebabkan nyeri, bengkak, dan hilangnya fungsi dari anggota tubuh yang terlibat.

Sedangkan cedera lainnya meliputi:


Memar - terjadi ketika terdapat pembengkakan dan memar di area tertentu pada tubuh.

Cedera ligamen - terjadi ketika terdapat kerusakan pada ligamen, yang dapat menyebabkan nyeri dan kehilangan fungsi gerak pada sendi yang terlibat.

Cedera otot - terjadi ketika terdapat kerusakan pada otot, yang dapat menyebabkan kelemahan dan kehilangan fungsi gerak pada anggota tubuh yang terlibat.

Cedera sendi - terjadi ketika terdapat kerusakan pada sendi, yang dapat menyebabkan nyeri dan kehilangan fungsi gerak pada sendi yang terlibat

Rabu, 03 Mei 2023

Jenis cedera ringan dan sedang

 


Cidera ringan biasanya terjadi ketika ada sedikit kerusakan pada bagian tubuh seperti lecet, memar, atau terkilir ringan. Contohnya bisa ketika kamu jatuh atau memukul sesuatu tanpa disengaja. Sedangkan cidera sedang lebih serius dan bisa menyebabkan kerusakan pada organ atau jaringan tubuh

Selasa, 02 Mei 2023

KLASIFIKASI OLAHRAGA DAN PENYEBAB TERJADINYA CEDERA OLAHRAGA



JENIS-JENIS CEDERA OLAHRAGA DAN

PENYEBAB TERJADINYA CEDERA OLAHRAGA


Tujuan Pembelajaran Umum:

Dalam pembelajaran ini mahasiswa/mahasiswi mampu mengerti dan memahami tentang jenis-jenis cedera olahraga serta penyebab terjadinya cedera olahraga.

Tujuan Pembelajaran Khusus:

Setelah mencermati materi ini mahasiswa/mahasiswi mengerti dan memahami tentang:

1. Pengertian cedera olahraga.

2. Bagian-bagian tubuh yang sering mengalami cedera olahraga.

3. Jenis-jenis cedera olahraga.

4. Penyebab terjadinya cedera olahraga.

5. Tanda-tanda reaksi radang setempat akibat cedera olahraga.

 

2.1 CEDERA OLAHRAGA

Seiring dengan manfaat yang dapat dirasakan dalam olahraga juga terdapat kenaikkan terjadinya cedera yang dialami, terutama sekali cedera yang parah/berlarut. Adanya aktivitas-aktivitas olahraga yang semakin meningkat dengan disertai terjadinya cedera yang menyertainya telah menimbulkan permintaan yang meningkat akan pengetahuan tentang

BAB 2

6 Pencegahan dan Peraatan Cedera Olahraga bagaimana agar tubuh kita dapat merespon gejala-gejala yang terjadi. Masyarakat telah mengalami kemajuan pada suatu keadaan dimana mereka tidak hanya ingin mengetahui manfaat yang dirasakan dari olahraga yang telah dilakukannya tetapi mereka juga ingin mengetahui cedera itu dapat terjadi dan langkah terbaik yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan atau bagaimana caranya mencegah terjadinya cederacedera tersebut. Cedera olahraga (sport injuries) adalah segala macam cedera yang timbul, baik pada waktu latihan, berolahraga, pertandingan olahraga ataupun sesudahnya. Pengetahuan tentang cedera olahraga berguna untuk mempelajari cara terjadinya cedera olahraga, mengobati/menolong/menanggulangi (kuratif), serta tindakan pencegahan (kuratif).

2.2 Bagian‐bagian Tubuh yang Sering Mengalami Cedera

Olahraga Distribusi persentase berdasarkan bagian-bagian tubuh yang mengalami

cedera:

a. Kepala 1%

b. Leher 1,5%

c. Lengan 14%

d. Badan 1%

e. Punggung 16%

f. Tangan dan Pergelangan Tangan 4%

g. Pinggang/Pinggul 5,5%

h. Paha 9%

i. Lutut 22,5%

j. Kaki/Tungkai Bawah 10%

k. Tumit 14%

l. Telapak Kaki 1,5%

Sumber: Cedera Olahraga (Alit Arsani, 2006)

Jenis-jenis Cedera Olahraga dan Penyebab Terjadinya Olahraga 7 Lutut memiliki persentase cedera tertinggi karena berfungsi ganda, yaitu selain sebagai penggerak, lutut juga berfungsi sebagai penahan berat badan sehingga kemungkinan cederanya semakin tinggi.

2.3 Jenis‐jenis Cedera Olahraga

2.3.1 Berdasarkan waktu terjadinya cedera:

a. Cedera akut, adalah suatu cedera berat yang terjadi secara mendadak/tiba-tiba (beberapa jam yang lalu) seperti: cedera goresan, robek pada ligament, atau patah tulang karena terjatuh. Tanda dan gejalanya: sakit, nyeri tekan, kemerahan pada kulit, kulit hangat, dan inflamasi.

b. Cedera kronis, adalah suatu cedera yang terjadi/berkembang secara lambat seperti: cedera pada otot hamstring yang mengalami cedera pada level rendah misalnya kram, namun secara berulang-ulang mengalami cedera yang berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan cedera pada level tinggi sehingga menyebabkan otot hamstring mengalami perobekan/putus total.

Tanda dan gejalanya: gejala sakit yang timbul dapat hilang dalam beberapa waktu tertentu namun dapat timbul kembali, biasanya karena overuse atau cedera akut yang tidak sembuh sempurna.

2.3.2 Berdasarkan berat ringannya cedera:

a. Cedera ringan, adalah cedera yang tidak diikuti kerusakan yang berarti

pada jaringan tubuh misalnya: kekakuan dan kelelahan otot. Cara penanganan pada cedera ini tidak diperlukan pengobatan yang khusus karena akan sembuh dengan sendirinya setelah istirahat beberapa waktu.

b. Cedera berat, adalah cedera yang serius dimana pada cedera tersebut

ditemukan adanya kerusakan pada jaringan tubuh misalnya: robeknya otot, robeknya ligament, maupun patah tulang (fraktur). 8 Pencegahan dan Peraatan Cedera Olahraga.


 

 

2.3.3 Berdasarkan Bagian-bagian Tubuh/Jaringan yang Terkena

Cedera

a. Jaringan lunak, terdiri dari: kulit, jaringan ikat, pembuluh darah, saraf, otot, tendon, dan ligament.

b. Jaringan keras, terdiri dari: tulang, tulang rawan, dan sendi

2.4 Penyebab Terjadinya Cedera Olahraga

Penyebab terjadinya cedera olahraga disebabkan oleh 3 faktor utama yaitu:

1. Sebab-sebab yang berasal dari dalam (internal violence)

Merupakan cedera olahraga yang terjadi karena adanya rangsang/pengaruh yang berasal dari dalam individu itu sendiri, misalnya:

a. Koordinasi otot-otot dan sendi yang kurang sempurna sehingga menimbulkan gerakan-gerakan yang salah.

b. Kelainan struktural tubuh (ukuran tungkai/kaki yang tidak sama panjangnya).

c. Kurangnya pemanasan (warming up), apabila pemanasan ini tidak dilaksanakan dengan baik/tidak memadai akan menyebabkan latihan fisik yang terjadi secara fisiologi tidak dapat diterima oleh tubuh karena otot belum siap menerima pembebanan. Jadi pemanasan itu penting agar tubuh dapat beradaptasi terlebih dahulu sehingga mengurangi resiko cedera akibat kurang elastisitas otot dan fleksibilitas sendi.

d. Kurangnya konsentrasi.

e. Keadaan fisik dan mental yang lemah, kondisi tubuh yang kurang baik sebaiknya jangan dipaksakan untuk berolahraga karena jaringanjaringan tubuh kekurangan sistem imun dan lemahnya system koordinasi.

f. Kelemahan pada otot, tendon, ligament.

g. Umur, kekuatan otot pada pubertas mencapai 70-80% dan mecapai puncaknya pada usia 25-30 tahun, selanjutnya mengalami penurunan secara bertahap dengan pertambahan usia. Setelah usia 30 tahun, seseorang akan kehilangan 3-5% jaringan otot total setiap 10 tahun. Kekuatan otot pada usia 65 tahun hanya tinggal 65-70%. Sehingga semakin bertambahnya usia maka, semakin berpengaruh terhadap kondisi fisik seseorang dan lamanya proses penyembuhan akibat cedera.

h. Keterampilan/kemampuan, keterampilan seorang atlet/olahragawan yang masih rendah akan lebih mudah dan lebih sering mengalami cedera dibandingkan dengan seorang atlet/ olahragawan yang telah terampil. Maka semakin bagus kemampuan motoriknya maka semakin kecil kemungkinan terkena cedera.

i. Pengalaman, seorang atlet yang telah berpengalaman akan lebih kecil kemungkinan terkena cedera bila dibandingkan dengan atlet yang masih belum berpengalaman. Hal ini dikarenakan pengalaman seorang atlet senior atau atlet yang banyak pengalaman dalam bertanding telah menyadari akan resiko dari terjadinya cedera sehingga resiko terjadinya cedera akan lebih kecil dibandingkan dengan seorang atlet pemula.

j. Penyembuhan cedera sebelumnya yang tidak sempurna (habitualis). Hal ini dapat terjadi karena kapsul sendi/ligament kendur.

k. Cedera yang timbul bisa berupa: robeknya otot, tendon, dan ligament.

2. Sebab-sebab yang berasal dari luar (eksternal violence) Merupakan cedera olahraga yang terjadi karena adanya pengaruh dari faktor luar individu yang memberikan pengaruh terhadap individu

tersebut, misalnya :

a. Kontak bodi dalam olahraga (body contact sport), misalnya: sepak bola,

tinju, karate, dan sebagainya.

b. Alat-alat olahraga, misalnya: bola, raket, stick hockey, dan lain-lain.

c. Kondisi lapangan, misalnya: keadaan lapangan yang tidak memenuhi standar/persyaratan, keadaan lapangan/lintasan balap motor/mobil yang berlubang-lubang.

d. Kondisi lingkungan, cuaca yang terlalu dingin/panas selain dapat menganggu penampilan seorang atlet juga dapat mencederai atlet itu sendiri.

e. Gizi, bila seorang atlet memiliki keseimbangan gizi yang baik maka lebih kecil kemungkinan mendapatkan cedera, dan bila cedera pun akan lebih cepat proses penyembuhannya karena gizi yang dibutuhkan tubuh untuk penyembuhan terpenuhi dengan baik.

f. Penonton, penonton yang fanatik biasanya melakukan apa saja saat timnya kalah bahkan dapat mencederai pemain lawan timnya.

g. Wasit, wasit yang kurang tegas dalam memimpin pertandingan dan kurang memahami peraturan terutama pertandingan yang memerlukan kontak fisik akan dapat mengakibatkan atletnya cedera.

h. Cedera yang timbul bisa berupa: robeknya otot, tendon, dan ligament.

3. Pemakaian otot dan tendon yang berlebihan atau terlalu lelah (over use)

Koordinasi otot yang terus menerus akan mengakibatkan otot dan tendon yang digunakan untuk aktivitas olahraga terlalu lelah bahkan bisa berakibat pada cedera. Tingkat keterlatihan yang belum memadai sewaktumeningkatkan dosis latihan juga dapat mengakibatkan over use. Cedera akibat over use bersifat kronis, bagian tubuh yang mengalami cedera pada level rendah misalnya kram, secara berulang-ulang mengalami cedera yang berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan cedera pada level tinggi sehingga menyebabkan robek pada otot, otot putus total, bahkan fraktur.

Cedera yang timbul bisa berupa: kram, strain (cedera pada otot atau tendon), sprain (cedera pada ligament), robek otot, robek tendon, robek ligament, otot putus total, dan fraktur.


 

2.5 Tanda‐Tanda Reaksi Radang Setempat Akibat Cedera Olahraga

Pada bagian tubuh yang mengalami cedera olahraga terjadi reaksi radang setempat atau inflamasi. Inflamasi adalah respon individu terhadap patogen (organisme atau virus penyebab penyakit), dalam jaringan berupa rangkaian reaksi yang terjadi pada tempat jaringan yang mengalami cedera, seperti terluka, terbakar dan lain sebagainya. Inflamasi atau peradangan setempat ditandai dengan adanya tanda-tanda sebagai berikut:

1. Kalor: hangat, pada saat mengalami cedera olahraga bagian tubuh yang cedera akan terasa hangat apabila disentuh.

2. Rubor: merah, pada saat mengalami cedera olahraga disekitar bagian tubuh yang mengalami cedera tersebut akan terlihat warna kemerahan.

3. Dolor: nyeri atau sakit, tentu saja akan terasa rasa nyeri atau sakit pada bagian tubuh yang mengalami cedera olahraga.

4. Tumor: bengkak, setelah beberapa saat mengalami cedera olahraga biasanya akan akan terjadi pembengkakan pada daerah yang cedera.

5. Fungsiolesi: daya pergerakan menurun dan kemungkinan disfungsi organ atau jaringan, bagian tubuh yang mengalami cedera akan mengakibatkan terjadinya penurunan pergerakan bahkan tidak bisa dipergunakan lagi.


Kamis, 23 Maret 2023

FAKTOR WARMING UP DAN COOLING DOWN


 

Setiap kali lari pastikan kamu memulai dengan pemanasan dan menutupnya dengan pendinginan. Kenapa penting untuk dilakukan?

 

Pemanasan yang baik memperlancar aliran darah, dan memastikan otot-ototmu tersuplai dengan oksigen. Pemanasan sebelum mulai olahraga juga menaikkan temperatur otot agar lebih fleksibel dan efisien. Dengan menaikkan detak jantung secara perlahan, pemanasan juga membantu agar kerja jantung tidak naik dengan tiba-tiba.

 

Sama pentingnya dengan pemanasan adalah sesi pendinginan. Berhenti mendadak bisa membuatmu pusing karena detak jantung dan tekanan darah turun secara tiba-tiba.

 

Kiat Melakukan Pemanasan Dan Pendinginan

 

   Jangan memulai dengan stretching. Lakukan aerobik ringan selama 5-10 menit untuk melonggarkan otot-otot dan memanaskan tubuh. Coba berjalan cepat atau berbaris.

 

   Saat mulai lari, jangan langsung kencang. Tapi mulai dengan jogging pelan dan kemudian secara perlahan meningkatkan kecepatan. Kamu harus bisa bernapas dengan mudah saat lari. Kalau mulai kehabisan napas, kurangi kecepatan.

 

   Setelah menyelesaikan lari, lakukan pendinginan dengan berjalan atau jogging selama 5-10 menit.

 

   Stretching bisa dilakukan bergantian pada seluruh bagian tubuh. Lakukan selama 15-30 detik untuk tiap anggota tubuh

Kamis, 23 Februari 2023

Faktor prilaku dan latihan-latihan progresif



Faktor prilaku dan latihan-latihan progresif

 Cedera olahraga adalah cedera yang timbul saat berlatih, bertanding ataupun saat setelah berolahraga. Cedera olahraga terjadi karena ketidakmampuan jaringan (otot, persendian, tendon, kulit) dan organ tubuh lainnya dalam menerima beban latihan pada saat berolahraga

Segala sesuatu yang dilakukan secara berlebihan memang bisa berakibat tidak baik, termasuk olahraga. Kamu memang dianjurkan untuk berolahraga secara rutin untuk menjaga tubuh tetap sehat dan kuat. Tapi, jangan juga berolahraga secara berlebihan, karena bisa memberi dampak negatif pada tubuh.

Banyak orang yang berolahraga secara berlebihan agar target atau tujuannya cepat tercapai. Padahal, itu adalah cara yang salah. Melakukan latihan fisik secara berlebihan justru akan membuat tubuh terkuras dan berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan. Ada dampak jangka panjang dan juga jangka pendek yang bisa kamu rasakan jika berolahraga secara berlebihan.

 

Dampak Jangka Pendek

 

Kelelahan

Olahraga secara berlebihan membuat tenaga habis terkuras dan tubuh akan terasa lemas, mual, bahkan tidak ada tenaga lagi untuk melakukan aktivitas lainnya. Jika kamu masih tetap melanjutkan berolahraga, maka kamu bisa mengalami sindrom kelelahan kronis.

 

Nyeri Otot

Berolahraga terlalu lama tentunya akan membuat otot-otot pada tubuh kesakitan. Sendi, tulang, dan beberapa anggota tubuh akan terasa nyeri, bahkan cedera jika ada otot-otot yang digunakan secara berlebihan. Jadi, baik kamu memilih latihan kardio maupun angkat beban, pastikan kamu memberi tubuhmu waktu untuk beristirahat agar dapat pulih kembali.

 

Sakit Punggung

Terutama jika kamu melakukan olahraga yang melibatkan banyak otot punggung, seperti angkat beban, situp, dan lain-lain, akan memberikan tekanan yang besar pada tulang punggung, sehingga menyebabkan sakit punggung.

 

Susah Tidur

Olahraga yang dilakukan dalam batas yang normal bermanfaat untuk mengatasi insomnia. Tapi, olahraga yang berlebihan justru dapat mengakibatkan kamu susah tidur dan insomnia. Berolahraga terlalu banyak membuat tubuh merasa stres dan membuatnya memproduksi kortisol berlebih sehingga kamu pun enggak mengantuk dan sulit rileks, apalagi tidur.

 

Dampak Jangka Panjang

 

Melemahnya Sistem Kekebalan Tubuh

Tubuh akan memulihkan dirinya sendiri dari kelelahan setelah berolahraga saat kamu beristirahat di malam hari. Tapi, jika kamu kecanduan berolahraga yang akhirnya menyebabkan susah tidur di malam hari, maka lama kelamaan sistem kekebalan tubuh akan menurun. Akibatnya, kamu jadi mudah terserang batuk, nyeri kepala, demam, dan bahkan berbagai penyakit lainnya yang lebih berat.

 

Osteoarthritis

Disebut juga sebagai penyakit degenerasi sendi, osteoarthritis menyebabkan pembengkakan sendi-sendi di dalam tubuh. Salah satu factor yang menyebabkan masalah kesehatan tersebut adalah terlalu banyak berolahraga.

 

Tidak Baik Bagi Kesehatan Jantung

Berdasarkan penelitian para ilmuwan dari Jerman, olahraga dengan intensitas yang tinggi dapat meningkatkan risiko kematian akibat serangan jantung atau stroke pada orang yang mengidap penyakit jantung. Selain itu, olahraga yang berlebihan juga dapat melemahkan jantung kamu. Jika kamu tidak mengimbanginya dengan mengonsumsi cukup nutrisi, maka kamu pun berisiko mengalami gagal jantung.

 

Gangguan Menstruasi

Khusus untuk para wanita, tubuh yang kelelahan setelah berolahraga secara berlebihan dapat membuat siklus menstruasi terganggu. Jika hal ini berlangsung lama, maka bukan tidak mungkin risiko kemandulan meningkat.

 

Gangguan Seksual Pada Pria

Khusus untuk para pria, olahraga yang terlalu intens bisa memicu terjadinya hipogonadisme, yaitu kondisi ketika hormon seksual yang dihasilkan oleh kelenjar seksual berada di bawah jumlah normal. Akibatnya, pria akan mengalami kesulitan ereksi, hingga infertilitas karena testis tidak dapat memproduksi jumlah sperma yang cukup. Tubuh yang kelelahan akibat olahraga berlebihan juga bisa menurunkan gairah seksual pria.

 

Jadi, sebaiknya lakukanlah olahraga dalam batas normal, misalnya selama 15 menit, 30 menit, atau sejam setiap hari, atau tiga kali dalam seminggu. Kalau kamu mengalami gangguan kesehatan akibat olahraga terlalu berlebihan, kamu bisa menghubungi dokter dan meminta saran kesehatan melalui aplikasi Halodoc


PERCAYA DIRI DALAM OLAHRAGA

 Hakim (2002) menyatakan kepercayaan diri dapat diartikan sebagai suatu keyakinan sesorang dari segala aspek kelebihan yang dimilikinya dan ...